Berita

ilustrasi/net

Dunia

Studi: Pembunuhan Dengan Senjata Api Di AS Lebih Tinggi Dari Negara Maju Lainnya

KAMIS, 04 FEBRUARI 2016 | 17:28 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Orang yang tinggal di Amerika Serikat 25 kali lebih mungkin dibunuh oleh senjata api daripada orang-orang yang tinggal di negara maju lainnya.

Hal itu terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari University or Nevada-Reno dan Harvard T.H Chan School of Public Health pekan ini.

Dalam studi tersebut ditemukan bahwa secara keseluruhan, tingkat kematian yang melibatkan senjata api di Amerika Serikat 10 kali lebih tinggi daripada 22 negara berpenghasilan tinggi lainnya di dunia.


Dengan demikian, pembunuhan adalah penyebab kematian kedua terhadap orang berusia 15 hingga 24 tahun di Amerika Serikat.

"Lebih dari dua-pertiga dari kasus pembunuhan di Amerika Serikat adalah pembunuhan senjata api," kata Erin Grinshteyn, asisten profesor di University of Nevada-Reno School of Community Health Science seperti dimuat Press TV.

Dapat disimpulkan bahwa sejauh ini tingkat pembunuhan secara keseluruhan di Amerika Serikat tujuh kali lebih tinggi daripada negara-negara maju lainnya.

Penelitian itu dilakukan berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Masih dalam penelitian yang sama ditemukan juga fakta bahwa bila dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, tingkat bunuh diri yang melibatkan senjata api di Amerika Serikat delapan kali lebih tinggi.

David Hemenway, seorang profesor di Harvard, mengatakan bahwa tingginya tingkat bunuh diri dengan senjata api di Amerika Serikat adalah akibat ketersediaan senjata api dan bukan karena kesehatan mental.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), senjata api adalah penyebab kematian lebih dari 33.000 orang di Amerika Serikat setiap tahunnya, angka yang meliputi kasus yang disengaja, pembunuhan dan bunuh diri. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya