Berita

foto: net

ITW: Proyek 47 Ruas Jalan Tol Bebani Rakyat

RABU, 03 FEBRUARI 2016 | 10:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pemerintah diminta agar meninjau kembali pendanaan pembangunan sebanyak 47 ruas jalan tol (berbayar) yang dijadikan sebagai proyek strategis. Sebab, proyek itu tidak pro rakyat, justru akan membebani masyarakat.

Demikiaan disampaikan Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW), Edison Siahaan kepada redaksi, Rabu (3/2). (Baca: Jokowi Dorong Percepatan Pembangunan 47 Jalan Tol)

Edison mengatakan, sebaiknya pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi massal tidak didasarkan pada hitung-hitungan bisnis semata. Sebab, lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, selamat, tertib, lancar serta terintegrasi adalah bentuk pelayanan yang harus diwujudkan oleh pemerintah, untuk mendorong peningkatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.


"Pembangunan 47 jalan tol yang sedang diprioritaskan pemerintah itu tidak pro rakyat, justru membebani rakyat," ujar Edison.

Menurutnya, apapun alasannya investor tetap berorientasi bisnis yang tentu akan berusaha meraup keuntungan. Nah, dengan membangun jalan tol tentu pada akhirnya akan menjadi beban masyarakat, karena untuk bisa melintas di jalan tol harus membayar.

Selain itu, lanjut Edison, pihaknya curiga kenapa pemerintah ngotot membangun jalan tol di sejumlah wilayah yang sesungguhnya belum membutuhkan jalan tol.

"Apa urgensinya membangun jalan tol Pekanbaru-Kandis-Dumai sepanjang 135 km," tanya Edison.

Sebaiknya pemerintah fokus pada pembangunan jalan lintas Sumatera, bukan membangun jalan tol. Begitu juga untuk wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Anehkan, jalan raya saja belum baik, malah yang dibangun jalan tol.

ITW menilai, proyek yang didanai asing ini dijadikan pemerintah sebagai tameng untuk melepaskan tanggungjawab. Seakan-akan pemerintah telah berbuat, tetapi bebannya ditanggung oleh rakyat. Bahkan bisa saja, ada pihak yang mendapat keuntungan dari proyek yang membebani rakyat ini.

Menurut Edison, pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi massal seharusnya memberikan manfaat, bukan justru membebani masyarakat. Oleh karena itu, investasinya adalah merupakan public service obligation (PSO) pemerintah.

"Pemerintah seharusnya melihat bagaimana dampak dari kemacetan, berapa kerugian akibat pemborosan BBM, kerugian masyarakat yang produktifitasnya terbuang akibat kemacetan. Apabila pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi umum hanya dilihat dari sisi untung rugi, maka Indonesia sulit memiliki transportasi umum yang memberikan keamanan, keselamatan, ketertiban, kelancaran (Kamseltibcar) serta terjangkau secara ekonomi," demikian Edison. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya