Berita

AM Putut Prabantoro: Indonesia Harus Memiliki Tradisi Impossible Dream

MINGGU, 31 JANUARI 2016 | 20:59 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA


Masyarakat Indonesia harus dibiasakan mempunyai mimpi besar yang mustahil (impossible dream) agar negara ini dibangun bukan hanya berdasarkan rutinitas dan "asas menyerah kepada nasib".

"Memiliki mimpi besar nan mustahil akan membentuk budaya kerja keras, tidak kenal lelah, cinta akan bangsa dan negara. Mimpi besar yang muncul dari diri sendiri itulah modal untuk membangun sebuah bangsa yang besar," kata Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro dalam uraiannya kepada peserta diskusi terbatas dari Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, Jumat (29/1).  
 
Dijelaskan, dilahirkan sebagai bangsa Indonesia, berasal dari sebuah suku, pemeluk agama tertentu dan dengan memiliki orangtua dalam berbagai kondisinya, merupakan anugerah semata. Menjadi warganegara dan bangsa Indonesia merupakan anugerah yang tidak dapat dinilai hanya dengan membandingkan dengan suatu ideologi tertentu.

Dijelaskan, dilahirkan sebagai bangsa Indonesia, berasal dari sebuah suku, pemeluk agama tertentu dan dengan memiliki orangtua dalam berbagai kondisinya, merupakan anugerah semata. Menjadi warganegara dan bangsa Indonesia merupakan anugerah yang tidak dapat dinilai hanya dengan membandingkan dengan suatu ideologi tertentu.
 
"Situasi dan kondisi ketika kita semua dilahirkan adalah sebuah anugerah semata. Tidak ada yang dapat menjelaskan ketika dan mengapa kita dilahirkan dalam situasi dan kondisi seperti itu. Tidak ada seorangpun dapat menentukan situasi dan kondisi sempurna saat dilahirkan. Semua merupakan anugerah semata dan anugerah itu merupakan modal kita untuk membangun bangsa dan negara di mana kita dilahirkan," ujar Putut.
 
Putut yang juga Konsultan Komunikasi Politik itu menjelaskan lebih lanjut bahwa anugerah itu menjadi modal bagi seluruh rakyat Indonesia untuk membangun dan meneruskan mimpi yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa. Semua warga negara harus memiliki mimpi yang besar dan tanpa itu mustahil mimpi para pendiri bangsa Indonesia terwujud.
 
"Apakah kita bisa bermimpi bahwa bangsa dan negara Indonesia terbebas dari korupsi ? Para ahli mengatakan Indonesia tidak mungkin terbebas dari korupsi karena para penyelenggara dan para penegak hukum justru melakukan korupsi. Kalau semua rakyat kelas bawah, menengah dan kelas atas tidak memiliki mimpi besar atas terhapusnya korupsi dari Indonesia, harapan itu tidak akan pernah ada dan tidak pernah terwujud sampai kapanpun," ujar Putut Prabantoro yang juga Staf Ahli Komunikasi Publik (Pokja) Badan Keamanan Laut RI (Bakamla).
 
Kemerdekaan yang didapatkan bangsa Indonesia, demikian Putut Prabantoro menambahkan, ada karena para pemimpin bangsa dan pendiri negara memiliki the impossible dream, alias mimpi yang besar dan mustahil. Oleh karena itu, generasi yang lahir di Indonesia harus dibiasakan untuk memiliki mimpi besar dan mustahil agar kemudian kelak mereka merealisasikannya di kemudian hari.
 
Sebagai tindak lanjut, para orang tua sekarang memiliki kewajiban untuk memberi modal kepada anak-anaknya sebuah tradisi mimpi besar dan bukan warisan korupsi ataupun warisan kemiskinan atau ketidakberdayaan. Kemelaratan atau ketidakberdayaan hanya bisa diubah dengan sebuah mimpi besar. Indonesia harus memulai memberi modal kepada anak-anak generasi sekarang sebuah dan kebiasaan mimpi besar agar mimpi Indonesia sebagai bangsa besar juga terwujud.
 
"Cara yang paling mudah untuk menjelaskan apakah itu sebuah sebuah mimpi besar dan mustahil adalah dengan mewujudkannya dalam perbuatan. Jika orang lain tidak percaya dengan omongan kita, buatlah mereka percaya dengan apa yang kita kerjakan atau lakukan.  Para pemimpin bangsa sudah terlampau banyak bicara tetapi tidak menunjukan ujud mimpi yang senyatanya," tegas Putut Prabantoro.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya