Berita

foto: net

Pak Jokowi, Tolong Jelaskan Kenapa Harga Karet Tidak Meroket?

MINGGU, 31 JANUARI 2016 | 14:50 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Sudah empat tahun harga karet di tingkat petani menurun. Parahnya, sejak Joko Widodo jadi Presiden harga karet terus anjlok. Kini harganya hanya kisaran Rp 4 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 15 ribu.

"Pak Jokowi, tolong jelaskan kenapa harga karet tidak meroket, tidak naik?" kata aktivis dari Kelompok Anak Petani Karet Indonesia (KAPKI) Ginanda Siregar di Jakarta, Minggu (31/1).

KAPKI mencatat, tahun 2012 harga karet sempat mencapai Rp 15 ribu, turun menjadi Rp 12 ribu - Rp 10 ribu di tahun 2013 dan 2014, turun lagi Rp 8 ribu - Rp 5 ribu di tahun 2015, dan sekarang tahun 2016 anjlok lagi mencapai titik nadir menjadi Rp 4 ribu bahkan Rp 3 ribu.


Jelas Ginanda, masyarakat di pedesaan khususnya petani karet bertanya-tanya kenapa harga karet terus menurun. Padahal, para petani sudah berusaha getah karet yang dihasilkan berkualitas baik, seperti kering dan bersih.

Menurut Ginanda, ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab Jokowi seputar anjloknya harga karet. Apakah kualitas karet Indonesia kalah saing di pasar internasional; apakah ada permainan mafia karet; apakah karena melemahnya perekonomian internasional; apakah ada pengaruh kegaduhan politik dan hukum nasional; apakah karena ketidakmampuan pemerintah mengkelolah karet hingga barang jadi; apakah paket-paket ekonomi yang diluncurkan tidak mujarab.

"Atau apakah Bapak Jokowi tidak mampu jadi presiden rakyat?" ujar Ginanda.

Namun amatan Ginanda, Jokowi sebenarnya bukan tidak mampu membantu jutaan petani karet. Apalagi Jokowi punya pembantu yang hebat-hebat seperti Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli.

"Sebenarnya yang ditunggu adalah good will dan political will Pak Jokowi untuk membantu petani karet. Pemerintah harus campur tangan jangan malah jadi penonton," terang Ginanda.

Untuk mengetuk pintu hati Jokowi, Ginanda menambahkan, akibat rendahnya harga karet saat ini, kehidupan petani karet menjadi sengsara, banyak anak petani yang berhenti dan terancam berhenti sekolah, dan merebaknya kriminal seperti pencurian di tengah-tengah masyarakat.

Diketahui, Indonesia memiliki areal karet paling luas di dunia yakni 3,4 juta hektar dan merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand (karena produksi industri karet nasional masih rendah). Sayangnya, sekitar 85 persen produksi karet dalam negeri masih diekspor dalam bentuk karet mentah dan sisanya untuk konsumsi dalam negeri. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya