Berita

petani sawit/net

Bisnis

PP 24/2015 Hanya Mencekik Petani Sawit

SELASA, 26 JANUARI 2016 | 18:15 WIB | LAPORAN:

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai terdapat pelanggaran HAM dalam Peraturan Pemerintah (PP) 24/2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau CPO (minyak sawit mentah)

Anggota Komnas HAM, Natalius Pigai, menjelaskan kebijakan tersebut telah menyengsarakan petani sawit yang tidak mampu membayar pajak ekspor sebesar US$ 50 per ton untuk CPO dan US$ 30 per ton untuk olein (produk turunan sawit).

Menurutnya, pemerintah tidak melakukan uji publik dari dampak dikeluarkannya PP 24/2015. Semestinya pemerintah bisa mempertimbangkan aspek perlindungan kepada petani, karena dalam PP itu terdapat pelanggaran atas perlindungan terhadap petani.


"Disadari atau tidak, peraturan yang tidak menguntungkan masyarakat bisa dikategorikan dalam pelanggaran HAM," ujar Natalius dalam diskusi publik yang diadakan Institut Soekarno Hatta (ISH) di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (26/1).

Dia menambahkan, dampak kebijakan pemerintah tersebut juga berpengaruh terhadap penguasaan lahan oleh korporasi. Sebab, para petani kelapa sawit yang tidak mampu membayar biaya ekspor akan menjual lahannya kepada perusahaan besar.

"Ke depan bisa saja kepemilihan lahan untuk petani bisa berkurang dari 45 persen. Ini dampaknya memang tidak sekarang, kalau tidak dicabut akan menimbulkan ketimpangan antara petani dan korporasi, di tahun-tahun mendatang lahan untuk petani bisa berkurang," imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Viva Yoga Mauladi, juga
menilai bahwa kebijakan tersebut menekan petani kecil. Menurutnya, jika pemerintah ingin menjaga harga sawit, kebijakan yang diambil bukan dengan sistem pungutan yang dibebankan kepada petani sawit.

"Menurut saya semestinya pemerintah membuat regulasi yang lebih sesuai dengan roh UU perkebunan untuk mensejahterakan petani sawit. Jadi PP ini harus diperbaiki dan diganti dengan subtansi yang berpihak kepada petani," ujarnya. [ald]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya