Berita

ppp

Politik

Muktamar Islah, Cara Baru Rebut Paksa PPP Yang Sudah Berketetapan Hukum

KAMIS, 21 JANUARI 2016 | 14:26 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

. Muktamar islah yang digulirkan PPP kubu M. Romahurmuziy dan didorong oleh Menkumham Yasonna H Laoly adalah cara lain untuk merebut paksa PPP dari kubu Djan Farid yang sudah berkekuatan hukum tetap.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum PPP yang juga pengacara PPP hasil Muktamar Jakarta, Humphrey Djemat dalam perbincangan dengan Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (21/1).

"Sepertinya mereka belum lelah mencari celah, mengobok-ngobok PPP sesuai dengan versi mereka, bukan versi ketetapan hukum. Apa yang terjadi sekarang penguasa justru mengakali hukum. Miris!" katanya.


Menurut Humphrey, namanya muktamar atau apapun istilahnya prinsipnya adalah memenangkan posisi tertinggi di organisasi, kontek di partai politik yaitu jabatan ketua umum.

Untuk mendaptkan, posisi tertinggi itu, lanjut Humphrey, semua pihak harus berkompetisi atau bersaing. Pertanyaannya, apa ini sesuai dengan prinsip islah?

"Jadi tidak ada itu pencampuradukan muktamar dengan islah. Muktamar tetap muktamar dan islah tetap islah. Kalau tetap dipaksakan oleh penguasa, itu artinya melakukan pembodohan terhadap masyarakat  tanpa malu-malu lagi memakai segala macam cara," terang Humphrey.

Tegas Humphrey, dimanapun di dunia ini islah atau perdamaian tidak bisa dipaksakan harus didukung oleh kedua belah pihak yang bertikai. Namun yang terlihat saat ini pihak Romy, sapaan akrab Romahurmuziy, mau memaksakan muktamar islah dengan jalan sendiri dan hebatnya diamini oleh Menkumham.

"Hukum adalah segal-segalanya di negeri ini. Sebenarnya sederhana, Menkumham cukup terbitkan SK Muktamar Jakarta sesuai amar putusan Mahkamah Agung, setelah itu baru tanggung jawab pemerintah mengawal islah. Bukan justru mendorong muktamar baru," ungkapnya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Humphrey juga mengingatkan kepada senior PPP untuk konsekwen dengan idealismenya sebelumnya yang mendorong dan menyatakan Muktamar Jakarta yang sah.

"Banyak sekali kutipan dan berita di media ketika para senior PPP menyatakan kalau Munas Jakarta adalah yang sah," katanya.

Humprey pun mengajak seluruh kader PPP baik yang senior maupun yang muda untuk bersatu menghormati putusan hukum yang sudah jelas dan terang benderang. Setelah persoalan hukum selesai baru semuanya wajib islah, membangun PPP yang tercerai berai. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya