Berita

Adhie M Massardi

Kelompok Fundamentalis Di Kabinet Harus Disikat!

KAMIS, 21 JANUARI 2016 | 12:33 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

NKRI terus dirongrong dan terancam eksistensinya oleh dua kekuatan fundamentalisme yang terus bergerak secara simultan yang dalam prakteknya saling mengisi seperti sistem dolby stereo di gedung-gedung bioskop. Itulah "fundamentalisme agama" dan "fundamentalisme pasar".
 
Kaum fundamentalisme agama menghendaki roda pemerintahan dijalankan dengan prinsip agama menurut tafsir mereka. Dalam memperjuangkan cita-citanya, mereka melakukan agitasi dan propaganda dengan memanfaatkan kesenjangan sosial akibat kebijakan pemerintah yang tidak adil. Inilah yang menjadi dasar pemikiran lahirnya kelompok-kelompok sempalan macam Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara), dll. Ujungnya-ujungnya melahirkan ekstremisme yang jadi induk terorisme, inkubator bagi lahirnya pelaku bombunuh diri.
 
Sedangkan kelompok fundamentalisme pasar, yang menghendaki pemerintahan dijalankan menurut mekanisme pasar (yang sudah mereka kuasai), memperjuangkan cita-citanya melalui mekanisme demokrasi yang dimanipulasi. Dengan cara ini mereka masuk ke sentra-sentra kekuasaan, baik di pusat maupun daerah. Dari sinilah mereka membuat kebijakan-kebijakan yang secara garis besar, dengan berlindung di balik jargon globalisme, memberikan peluang sangat besar kepada "penguasa pasar" untuk menguasai segala jenis hajat hidup orang banyak.
 

 
Kita tidak bisa menetapkan mana yang lebih berbahaya dan menjadi prioritas untuk dilibas. Yang jelas, kedua bentuk fundamentalisme ini bertentangan dengan konstitusi UUD 1945. Tapi kalau melihat kenyataan di lapangan, kekuatan kelompok fundamentalisme pasar yang menguasai pemerintahan akan melahirkan kebijakan yang tidak berkeadilan, dan akan menciptakan kesenjangan yang pada gilirannya merupakan ladang subur bagi kaum fundamentalis agama untuk mengembangkan gagasannya.
 
Makanya, euforia bersatu melawan terorisme pasca "Bom Sarinah" yang masih hangat ini harus dijadikan momentum bagi pemerintah untuk secara paralel bergerak menghentikan dua jenis fundamentalisme itu. Dari sisi (aparat) keamanan mencegah aksi-aksi terorisme, di sisi politik membersihkan kabinet dari orang-orang yang isi kepalanya sudah diformat dengan ideologi fundamentalisme pasar.
 
Sebagaimana penganut fundamentalisme agama yang gampang ditengarai, kaum fundamentalis pasar (di kabinet-Istana) juga mudah dideteksi dari perilakunya. Mereka yang mendorong presiden untuk menyerahkan kontrol atas energi, dan sumber daya mineral kita kepada pihak asing, atau menjunjung tinggi royalti dari pihak asing sebagai sokoguru APBN, sudah pasti ini bagian dari kaum fundamentalis pasar.
 
Maka apabila ingin memberantas kaum fundamentalis secara stereo, mengimbangi langkah aparat keamanan melibas fundamentalis agama, tidak ada jalan lain bagi Presiden Joko Widodo selain menyikat orang-orang yang menjadi musuh rakyat dan bersembunyi di kabinetnya.

Rencana me-reshuffle kabinet harus memakai basis moral: Membersihkan negeri ini dari berbagai jenis fundamentalisme.
 
*Penulis adalah Sekjen Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI), Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya