Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Indef: Masalah Utamanya, Pertamina Tak Pernah Terbuka

KAMIS, 21 JANUARI 2016 | 04:34 WIB | LAPORAN:

RMOL. PT Pertamina (Persero) dikritik. Perusahaan minyak plat merah itu dinilai meraup keuntungan sangat besar dari penjualan BBM bersubsidi baik jenis premium maupun solar.

"Masalah utama penjualan BBM oleh Pertamina yang lebih mahal ini karena Pertamina sendiri tidak pernah terbuka. Berapa cost-nya dan berapa untungnya. Jadi ini keterlaluan, Pertamina jual BBM di SPBU malah mahal, sementara yang dijual di perusahaan harga BBM-nya ada potensi untuk dijual lebih murah," kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati dalam keterangannya, Rabu (20/1).

Menurut dia, harga murah yang diterima oleh perusahaan terjadi lantaran tidak dikenai bea masuk lagi dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Semua produk dari negara ASEAN lain termasuk minyak tidak lagi dikenai bea masuk.


"Juga sekarang ketika harga minyak dunia anjlok, potensi kebocoran minyak di tengah jalan untuk dikirim ke luar juga kecil karena memang harganya sedang turun," tambah dia.

Nah, untuk solar sendiri, lanjut Enny, tidak lagi disubsidi karena harganya terus menurun. Tapi terkadang Pertamina dan juga pemerintah lambat melakukan penurunan ketika harga minyak dunia terus menurun. Parahnya, hal itu berbeda jika harga minyak dunia naik, Pemerintah malah cepat merespon untuk segera menaikan harga.

"Pemerintah dan Pertamina tidak tegas mengatur penurunan harga. Padahal kita sudah tidak lagi disubsidi. Apalagi minyak terus melorot di bawah US$ 40. Angka itu kan jadi patokan asumsi pemerintah, jika di atas US$40 baru disubsidi," terang Enny.

Sebelumnya, harga minyak dunia yang terus merosot di bawah USD30 per barel akhir-akhir ini, sudah semestinya berimbas pada menurunnya harga jual bensin maupun solar. Bahkan harga Means of Platts Singapore (MOPS) untuk jenis solar saat ini sudah menyentuh harga USD40 per barel, yang artinya jika dirupiah dan diliterkan, harga keekonomian solar berdasarkan MOPS adalah Rp3.500/liter (belum termasuk biaya pengangkutan dan pajak).

Jika dihitung ongkos kirim katakanlah USD3 per barel (Rp300/liter) dan PPN 10 persen (Rp380/liter) ditambah PBBKB 5 persen (Rp190/liter) maka semestinya harga solar non subsidi di Indonesia berkisar di harga Rp4.370-Rp4.500 per liter.

Tapi kenyataannya harga Solar subsidi sampai saat ini Rp5.750 per liternya (Harga keekonomian: Rp6.750 per liter) ada selisih harga Rp2.380 dari harga keekonomian (selisih Rp1.380 dari harga subsidi).

Keuntungan yang sangat besar tentunya yang diraih oleh Pertamina dari masyarakat. Maka sangat tidak menutup kemungkinan ada pihak yang berani menjual harga solar non subsidi di bawah harga solar subsidi.

Informasinya ada permainan di lapangan soal harga jual beli solar dimana harga solar non subsidi (untuk Industri) lebih murah daripada harga Solar subsidi yang dijual di SPBU.
Hal ini karena pergerakan harga minyak yang cepat berubah setiap hari, sedangkan pemerintah mengevaluasi harga jual BBM setiap 3 bulan.

Seperti yang pernah terjadi pada bulan Agustus 2015 lalu yang saat itu harga solar subsidi di SPBU dijual dengan harga Rp6.900 per liter, PT AKR Corporindo Tbk, justru menjual solar industri di level Rp 6.400 per liter, lebih murah Rp 500 per liter. [sam]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya