Berita

djan farid/net

Djan Farid: PPP Dicabik-Cabik Dengan Gaya Politik Adu Domba

SELASA, 19 JANUARI 2016 | 15:30 WIB | LAPORAN:

. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan satu-satunya Partai Islam yang eksis dan kini sedang diuji oleh oknum penguasa. PPP pun di cabik-cabik dan dicerai beraikan dengan gaya politik adu domba.

Demikian di sampaikan Ketua Umum PPP hasil Munas Jakarta, Djan Farid, dalam perbincangannya dengan Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (19/1).

"Ya Allah Ya Rabbi, lindungilah Partai Islamku dari kezaliman oknum penguasa yang tidak patuh hukum," katanya.


Djan Farid menceritakan sejarah politik adu domba. Kata dia, pada tahun 1596 Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, pertama kali mendarat di Banten. Kemudian, tahun 1602 Belanda mendirikan kongsi dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) di Batavia untuk memperkuat kedudukannya.

"VOC ingin menguasai pusat-pusat perdagangan, seperti Batavia, Banten, Selat Sunda, Makassar, Maluku, Mataram (Jawa), dan berbagai daerah strategis lain," katanya.

Belanda, terang dia, dapat dengan cepat menguasai Nusantara karena politik kejam mereka yaitu politik adu domba. Belanda mengadu domba raja-raja di daerah sehingga mereka terhasut dan terjadilah perang saudara dan perebutan tahta kerajaan.

"Ini menjadi titik lemah pada jaman itu, ketika kerajaan gampang sekali di hasut yang tentunya melemahkan dengan sendirinya," katanya.

Bargaining Belanda waktu itu tambah dia, membantu pemberontakan dengan meminta imbalan daerah kekuasaan dagang (monopoli perdagangan).

Terkait dengan PPP, kata Djan Farid, setelah Indonesia merdeka 70 tahun, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga mengalami perlakuan yang sama seperti  zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Namun, Djan tidak gentar, semua akan dihadapi dengan pertolongan Allah SWT.

"Perjuangan membela PPP dan menyadarkan oknum penguasa yang tak taat Hukum adalah jihad," demikian Djan. [ysa]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya