Berita

DIVESTASI FREEPORT

Pemerintah Harus Hati-hati Jangan Sampai Merugi

JUMAT, 15 JANUARI 2016 | 10:59 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintah diminta untuk hati-hati dalam memutuskan pembelian divestasi saham 10,64 persen dengan nilai 1,7 miliar dolar AS atau setara Rp 23,5 triliun yang ditawarkan PT Freeport Indonesia. Hal ini diperlukan mengingat laporan produksi dan keuangan Freeport Indonesia selama bertahun-tahun beroperasi di Indonesia sangat tertutup.

"Harus hati-hati, jangan nanti malah membuat pemerintah rugi besar," ujar Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono, Jumat (15/1).

Arief menyatakan pemerintah harus benar-benar menghitung matang divestasi saham. Harus dicamkan, Freeport merupakan perusahaan tambang yang produksinya bergantung pada kandungan tambang yang ada, dan dalam waktu tertentu akan habis. Ini artinya dari tahun ke tahun keuntungan Freeport akan terus berkurang.


Pemerintah, katanya, harus belajar dari kasus Enron Corp sebelum membeli saham Freeport. Pada tahun 2001, perusahaan gas alam yang berdiri tahun 1932 di Omaha, AS, itu mengumumkan membukukan pendapatan hingga 100 miliar dolar AS. Tetapi setahun kemudian perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut karena adanya manipulasi laporan keuangan dengan tujuan investor tetap percaya dan tertarik terhadap sahamnya.

Bukan tidak mungkin Freeport Indonesia, kata Arief, melakukan hal yang sama. Freeport mengklaim selalu untung besar, dan kandungan emas di area tambang yang dikelolanya masih besar. Sebab Freeport Indonesia bukan perusahaan terbuka. Ini artinya data-data laporan keuangan dan produksinya tetap tidak dapat diakses setiap tahunnya.

"Jadi jangan terpancing hanya karena bisnis Freeport adalah bisnis tambang emas yang dikira akan memberikan keuntungan yang banyak, padahal sejak tahun 1967 lahan Freeport Indonesia dieksploitasi dan mungkin saja kandungan tambangnya sudah berkurang banyak," imbuh dia.

"Sekalipun Freeport McMorran melantai di bursa Amerika Serikat tetap saja akan ada asimetri informasi terhadap laporan keuangan yang mereka publish," tukasnya.[dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya