Tahun 2016 ini masih membawa tugas yang sama bagi Korea Utara, yakni menciptakan reunifikasi nasional. Hal itu merupakan tujuan prioritas yang paling pentung dan mendesak.
Begitu kata pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un dalam pesan tahun barunya.
Merujuk pada pengalaman tahun lalu, ujar Kim, sulitnya proses reunifikasi Korea tercapai disebabkan oleh adanya pihak-pihak anti-reunifikasi yang berupaya mengganjal proses tersebu serta belum adanya titik temu dengan Korea Selatan tentang arah reunifikasi itu sendiri.
"Pihak berwenang Korea Selatan di depan umum berusaha untuk mewujudkan tujuan mereka, yakni mengubah rezim di negara kita serta melakukan unifikasi sistem secara sepihak," kata Kim dalam teks pidatonya yang diterima redaksi.
Menurutnya, hal itu merusak prinsip utama reunifikasi yang harusnya lebih mengutamakan dialog antar-Korea serta menciptakan situasi ketidakpercayaan dan konfrontasi antara utara dan selatan.
Selain itu adanya intervensi asing terutama dari Amerika Serikat juga semakin memperburuk keadaan. Padalah, menurut Kim, masalah antar dua Korea harusnya bisa diselesaikan secara mandiri sehingga bisa selaras dengan aspirasi dan tuntutan bangsa.
"Hal ini tidak lain dari kekuatan luar yang membagi bangsa kita, dan juga tidak lain dari Amerika Serikat dan pengikutnya yang menghambat penyatuan kembali negara kita," tegas Kim.
"Tahun ini, kita harus memegang teguh slogan untuk menggagalkan tantangan dari pasukan anti-reunifikasi dan mengantarkan era baru reunifikasi independen," sambungnya.
Kim menegaskan harapan warga Korea Utara untuk mencegah bahaya perang dan menjaga perdamaian serta keamanan di semenanjung Korea. Karena itulah ia menyebut bahwa salah satu upaya utama yang harus dilakukan untuk selangkah lebih maju ke proses reunifikasi adalah dihentikannya latihan perang gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat di Semenanjung Korea. Menurutnya, hal itu justru memicu provokasi militer.
"Ini adalah sikap konsisten kami untuk berusaha dengan kesabaran bagi perdamaian di semenanjung dan keamanan di wilayah tersebut. Namun, jika agresor berani memprovokasi kita, meskipun pada tingkat yang rendah, kita tidak akan pernah mentolerir itu tapi merespon tegas dengan perang suci tanpa ampun," tegas Kim.
[mel]