Berita

Bisnis

Dana Pungutan Dari Premium Dan Solar Harus Punya Landasan Hukum Kuat

SABTU, 26 DESEMBER 2015 | 06:39 WIB

Konsep dana cadangan untuk ketahanan energi seharusnya dibuat jauh-jauh hari oleh pemerintah dan DPR. Pasalnya, harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat fluktuatif akan mengganggu sektor lainnya, baik industri perdagangan, maupun sektor konsumsi.

Pengamat ekonomi politik minyak dan gas bumi, Asosiasi Ekonom Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengingatkan, fluktuasi harga BBM menjadi salah satu pemicu  kekacauan ekonomi. Sebagai bahan baku utama dalam produksi, harga BBM haruslah stabil.

"Secara sederhana dana stabilitasi BBM ini ditujukan kepada negara dan pemerintah agar tidak memakan semua keuntungan hasil pengusahaan BBM. Namun juga disisihkan bagi stabilitasi harga BBM sendiri dan bagi generasi mendatang," jelasnya.


Sumber dari dana stabilitasi pada intinya adalah dana-dana yang selama ini dilahap habis oleh negara yakni  keuntungan dari hasil eksploitasi minyak di hulu dan  pajak yang diterapkan oleh pemerintah dalam seluruh rantai produksi BBM dari hulu sampai ke hilir.

Kedua sumber itulah yang dapat digunakan untuk menjamin keterjangkauan masyarakat akan harga BBM yang stabil dan ketersediaan dana untuk generasi mendatang.

Meski belum terlambat, menurut dia, konsep dana stabilitasi BBM yang saat ini diluncurkan pemerintah, perlu didukung oleh publik.

Di tengah penurunan harga BBM sekarang ini sumber dana stabilitasi yang paling dimungkinkan seharusnya bersumber dari pajak-pajak yang dipungut pemerintah dalam seluruh rantai suplai BBM.

"Selama ini pajak yang dipungut pemerintah sangat besar. Ini yang menyebabkan ongkos produksi BBM di Indonesia menjadi mahal," cetusnya.

Oleh karena itu, tuturnya, pajak-pajak ini harus dikurangi dan jika dipungut harus diarahkan untuk dijadikan dana stabilitasi atau tidak dihabiskan untuk pembiayaan APBN.

Lantas bagaimana sistem pengelolaan dana tersebut?
Salamuddin menjelaskan, sistem dana stabilitasi harus ditetapkan dengan landasan hukum yang kuat, sehingga tidak gampang dimainkan dan pertanggungjawabannya harus jelas, serta pengelolaanya transparan.

"Agar aman dana ini harus ditempatkan dalam kas negara yang dijamin keamanannya, dalam bentuk asset yang mampu melawan fluktuasi harga minyak dan nilai tukar rupiah terhadap dolar," pungkasnya.[wid] 

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Menhub Prioritas Program dan Anggaran untuk Tingkatkan Keselamatan Transportasi

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:51

DPR Yakin Potongan Aplikasi 8 Persen Bikin Driver Makin Sejahtera

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:48

Kuasa Hukum Pertanyakan Status Tersangka Raudi Akmal

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:25

Nasib Ribuan Pekerja Moker Freeport Diadukan ke Kementerian HAM

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:09

Gus Yaqut Dibantarkan ke Rumah Sakit Polri

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:58

Dirjen Imigrasi Paparkan Tiga Pilar Penguatan Perbatasan Indonesia di Siem Reap

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:29

Legislator Golkar Apresiasi Dividen PT Telkom Tertinggi

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:15

Connie Minta Jokowi Diadili Terkait Kebijakan IKN

Rabu, 24 Juni 2026 | 20:12

Kuliner Potensi Perkuat Pariwisata di Kancah Internasional

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:53

Harta Kekayaan Menperin Agus Gumiwang Naik 23,2 Persen, Utang Nyaris Rp100 Miliar

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:51

Selengkapnya