Berita

adhie M. massardi/net

Adhie M Massardi

CATATAN JUM’AT TERAKHIR 2015

Religiusitas Negeri yang Korup

JUMAT, 25 DESEMBER 2015 | 14:46 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

HARI ini, Jumat, 25 Desember. Memang tak ada yang istimewa bila dilihat dengan kacamata biasa. Karena Jum’at hari ini niscaya sama dengan sejumlah Jum’at yang telah lewat. Makanya, sejarah juga pasti ogah menyediakan halamannya untuk mencatat riwayat Jum’at paling buncit tahun 2015, tahun kedua era pemerintahan Joko Widodo ini.
     
Tapi marilah kita melihat Jum’at kali ini dengan kacamata ketatanegaraan, dengan semangat berbangsa yang baik dan benar. Maka kita akan melihat makna paling hakiki kenapa para pendiri bangsa ini menulis alinea ketiga Preambule (Pembukaan) UUD 1945 yang menjadi nafas kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.
    
Alinea ketiga Preambule UUD 1945 itu berbunyi: "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
    

    
Kalimat "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” itu bukan bermaksud menafikan proses dan ikhtiar panjang bangsa Indonesia dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan. Melainkan cermin karakter dasar bangsa Indonesia yang religius. Sebab kemerdekaan kita diperoleh bukan dengan duduk-duduk tafakur dan berdoa. Sejarah banyak mencatat perlawanan heroik rakyat Indonesia melawan penjajah.
    
Jum’at 25 Desember 2015 ini menjelaskan kepada kita secara sangat seksama dan konkret alinea ketiga Preambule UUD 1945 itu. Karena pada saat yang bersamaan, lebih dari setengah juta masjid dan lebih dari 50 ribu gereja dari berbagai denominasi, dipenuhi oleh umatnya masing-masing untuk melakukan ibadah.
    
Di masjid-masjid seluruh Indonesia umat Islam menunaikan sholat Jum’at, dan mendengarkan khotibnya yang (mayoritas) mengangkat kelahiran Nabi Muhammad Saw sebagai tema khotbahnya. Karena pada 12 Rabi’ul Awal 1437 Hijriyah, bertepatan dengan 24 Desember 2015, umat Islam memperingati Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad.
    
Sedangkan umat Kristiani pada Jum’at yang sama memenuhi gereja masing-masing untuk melaksanakan ibadah Misa Natal. Kita semua tahu, pada hari ini umat Kristiani memang merayakan kelahiran Yesus Kristus alias Isa Almasih, pembawa risalah agama Kristen.
    
Kalau dilihat dari langit, pada Jum’at ini, Indonesia bukan hanya mencerminkan kehidupan kedamaian keberagamaan yang beragam, tapi cermin kehidupan bangsa yang religius. Lebih dari separuh penduduknya, pada hari ini, berada di rumah-rumah ibadah dan dengan sangat khusyuk melakukan ritual keagamaan.

Tapi ada yang menganggap religiusitas bangsa Indonesia kontradiktif dengan kenyataan perilaku masyarakatnya koruptif, atau permisif terhadap terhadap kejahatan korupsi. Yang berpandangan demikian, bisa dipastikan, adalah para sosiolog sekular. Sebab bagi mereka yang memahami agama, kenyataan ini tidak dipandang sebagai kontradiktif”.

Karena meskipun dikenal sebagai negeri yang sangat korup, rakyat Indonesia memiliki perikemanusiaan yang terpuji. Selalu sigap, misalnya, kalau ada kegiatan sosial donor darah”. Pertumbuhan rumah ibadah seperti masjid, juga cukup pesat berkat donasi yang deras mengalir. Kalau tidak percaya, tanya Pak Wapres Jusuf Kalla, yang juga merupakan sesepuh PMI (Palang Merah Indonesia) dan DMI (Dewan Masjid Indonesia).
    
Masyarakat yang religius adalah masyarakat yang (merasa) sangat dekat dengan Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta. Karena (merasa) dekat dengan Tuhan, maka (mereka) sangat paham dan fasih bagaimana cara mohon ampunan kepada Tuhan”. Jadi hari ini korupsi, besok mohon ampunan Tuhan.

Itulah sebabnya meskipun usia mungkin sudah uzur, tapi apabila memiliki kekuasaan, akan digunakan untuk memakmurkan sanak-keluarganya. Agar apabila kelak maut menjemput, bisnis sanak-keluarganya sudah dalam posisi mapan dan banyak untung.
    
Memang, dalam masyarakat yang religius, tumbuh kepercayaan pahala dari rumah ibadah” akan terus mengalir kepada donatur yang membangunnya. Sedangkan dosa korupsi hanya dicatat satu kali saja.
    
Tentu saja ini pandangan yang sesat. Tapi itulah hal yang bisa menjelaskan kenapa di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang sangat religius, juga tumbuh subur perilaku koruptif. Karena (merasa) fasih dan paham bagaimana cara bertobat. @AdhieMassardi

 
* Penulis adalah Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), anggota senior Irres” (Indonesian Resourcess Studies)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya