Berita

Bila Kebenaran Dikotori Lumpur Politik

SENIN, 21 DESEMBER 2015 | 07:30 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Bila kebenaran dikotori lumpur politik, maka sejarah yang membersihkannya. Dan bila politik yang sedianya suci itu menjadi kotor, maka puisi yang akan mencucinya.

Demikian adagium yang berkembang terkait dengan kebenaran, sejarah, politik dan puisi.

Kini politik Indonesia, kata sebagian orang, benar-benar berada dalam kegaduhan. Sementara orang menilai, kini pemerintahan multi-pilot. Orang pun susah membedakan mana kebenaran dan manipulasi; mana citra dan mana kesungguhan.


Saat ini, politik menjadi buram; dipuji dan dinista. Dibenci sebagai cara mengeruk keuntungan pribadi, namun juga dirindukan sebagai alat untuk mengendalikan dan membagi kekuasaan dengan benar untuk rakyat banyak.

Sulit dipisahkan, mana kegaduhan yang dibikin para mafia dan antek asing yang selama ini menyengsarakan rakyat. Inilah kegaduhan hitam, yang dibuat para mafia dengan cara membuat opini dan pengalihan isu, agar manuver dan kegiatan mereka mengambil sumber daya alam Indonesia tak terendus.

Sulit juga diterka maka kegaduhan putih, yang merupakan wujud Revolusi Mental, yang membawa perubahan dengan gebrakan yang menghentak dan mendobrak. Kegaduhan yang laksana halilintar di siang bolong, yang mencabik-cabik jaringan sistem kekuasaan yang selama ini dikendalikan oleh segelintir orang dan sudah berurat-berakar.

Di tengah kondisi ini, Kantor Berita Politik RMOL menutup akhir tahun dengan Malam Baca Puisi. Malam Baca Puisi ini bertemakan "Disini, Aku Untuk Indonesia." Tema yang diharapkan mengguggah semua anak bangsa, untuk berterimakasih, memberi dan mengabdi kepada Ibu Pertiwi. Pengabdian yang bersih dari niat busuk kepentingan pribadi, politik buruk atau kegaduhan jenis aliran hitam.

Malam baca puisi ini akan digelar di  Gedung Serba Guna Galeri Nasional, Jakarta Pusat, malam ini (Senin, 21/12). Sejumlah pemimpin lembaga tinggi negara, para menteri, tokoh politik, gubernu, dan budayawan membacakn puisi, dalam satu tarikan nafas yang sama," Disini, Aku untuk Indonesiaku." [ysa]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya