Berita

luhut panjaitan/net

SKANDAL FREEPORT

Ini Alasan Mengapa Luhut Panjaitan Di-bully Kelompok Sudirman Said

SABTU, 12 DESEMBER 2015 | 15:01 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pernyataan terbuka Menko Polhukam Jenderal TNI (Pur) Luhut Binsar Panjaitan (LBP) yang digelar di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakpus, Jumat kemarin (11/12) sangat beralasan.

Penjelasan Luhut semakin menjelaskan kenapa pihat PT Freeport, via Menteri ESDM Sudirman Said (SS) dan kelompoknya, ngotot membuka rekaman percakapan itu ke publik dan mem-bully Luhut.

"Dari penyataan dalam konperensi pers kemarin, LBP seperti menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya yang di-TO (target operasi) Freeport, SS dkk adalah dirinya (LBP). Sebab dia orang yang memberikan rekomendasi kepada Presiden untuk tidak memperpanjang kontrak karya PT Freeport Indonesia secara melawan hukum," kata koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi.


"Itu substansi pernyataan LBP. Jadi jangan dilihat dari gaya dia bicara, yang bisa menghilangkan sunstansi. Maklum, selain Batak, dia juga tentara," tambah Adhie.

Adhie menjelaskan, sebagai sesama ‘santri Gus Dur’ dalam ilmu pemerintahan, dirinya melihat LBP masih konsisten pada ajaran Gus Dur.

Ajaran itu adalah, dalam beragama berpegang pada Kitab Suci. Dalam berbangsa dan bernegara, berpegang kepada Konstitusi dan UU yang belaku. Kedua hal itu dipraktekkan Luhut dalam konteks Freeport yang ingin memperpanjang kontrak secara melawan hukum (UU).

"Jadi sesungguhnya yang di-TO oleh SS dkk untuk insinuasi dan pembunuhan karakter lewat peredaran trakskrip dan pemutaran rekaman percakapan antara MRC, MS dan SN yang dilakukan Presdir Freeport Maroef Syamsuddin adalah LBP. Itu sebabnya sejak hari pertama kasus ini terkuak, yang diangkat ke permuakaan adalah nama LBP yang disebut hingga 66 kali. Kemudian bergulir ke LBP yang dianggap memiliki pengaruh sangat kuat di Istana," jelas Adhie lagi. [dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Kopilot Malaysia Ngaku Diupah Rp220 Juta Selundupkan 26 Kg Ekstasi ke Jakarta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:20

Merdeka dalam Keserakahan: Ilusi Kemerdekaan di Usia 81 Tahun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:02

Polda Metro Masih Selidiki Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pendeta

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:52

Loyalis Anies Dicecar KPK soal Jual Beli Properti di Kasus TPPU Rita Widyasari

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:25

Begini Respons Deddy Sitorus Usai Dilaporkan KWP ke MKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:02

Warga Tuban Terdampak Debu Pabrik, Semen Indonesia Mangkir Dipanggil DPRD

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:11

Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI Buka Jalan Akses Finansial Pulau Seram

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:02

Bea Cukai Ciduk Kopilot Kurir Narkoba, Duit Negara Rp207,9 Miliar Selamat

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:41

Transformasi Danantara Dongkrak Pendapatan Telkom hingga Tembus Rp75,9 Triliun

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:22

Polda Metro Jaya Cokok 728 Tersangka Curanmor

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:06

Selengkapnya