Berita

ilustrasi/net

Antara Perselingkuhan Dan Perang Politik...

SENIN, 07 DESEMBER 2015 | 11:31 WIB | OLEH: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Dalam negara yang demokratis, selalu ada unsur-unsur di dalamnya yang diharapkan bisa saling mengawasi satu sama lain agar kekuasaan tidak berada di tangan satu pihak yang berpotensi disalahgunakan sebagaimana era raja-raja di masa lalu. Sebagai anti-tesis raja-raja itu, kemudian dikenal dengan konsep trias-politika.

Di era yang semakin modern dan terbuka, ruangan demokrasi pun dipenuhi paling tidak oleh beberapa kelompok sosial. Sebut saja misalnya political society, economic society dan civil society. Ketiga kelompok ini tentu saja diharapkan, selain bisa saling mengawasi satu sama lain, juga bisa mengisi ruang demokrasi sehingga melahirkan kesejahteraan bagi orang banyak.

Namun yang ironis terjadi adalah ketika politisi yang beragam dan bisa saling berbenturan ini berselingkuh dengan pengusaha, sehingga kue ekonomi hanya dinikmati mereka saja, dan tak berdampak pada publik. Hal ini bisa berupa penghapusan pajak, izin usaha yang tak terbatas, atau hak istimewa lain sehingga menihilkan kewajiban kepada publik atau menggasak hak rakyat lainnya.


Pun demikian, sama bahaya bila politisi berselingkuh dengan civil society hingga kejahatan kebijakan paling terang pun akan ditutupi atas nama "rakyat." Berbahaya juga bila civil society, yang seharusnya mewakili aspirasi publik, malah menjadi corong pengusaha sebagai cap legitimasi keserakahan dalam bentuk, misalnya eksploitasi alam.

Dalam konteks inilah, kasus rekaman yang belakangan mencuat ini bisa dibaca dan diurai. Sebagian orang menyebut ini pertarungan antar gang, sebagian lain menyebut ini sebagai perebutan tingkat dewa. Bolehlah juga disebut sebagai kisah perselingkuhan yang akhirnya terlanjur terbuka ke publik.

Di satu sisi, ada perusahaan yang tentu saja tak mau mengakhiri kontrak karya di Indonesia. Di sisi lain, ada sekelompok elit yang menempel pada kekuasaan yang sudah mewacanakan untuk memperpanjang kontrak karya. Klop sudah. Kunci keamanan hampir dipegang, dan rencana tinggal dijalankan. Saham, atau bentuk apapun, tinggal dibagikan bila operasi berjalan lancar. Tak ada ribut-ribut.

Namun si sisi lain, ada bagian dari kelompok politik yang memegang kuasa di satu sisi dari segitiga trias-politika mau ikut bermain. Maka dia pun bermanuver, dan memastikan kunci keamanan belum benar-benar terjamin. Ada kunci lain, yang mereka pegang. Oke, keamanan bisa terjamin 100 persen, dengan catatan, saham harus dibagi secara rata. Dan sialnya, permintaan ini terbuka ke publik karena direkam. Buyar.

Lebih sial lagi publik. Publik hanya meributkan rekaman itu karena hanya itu yang bisa didengar dan dianalisa, atau dibincangkan di warung-warung kopi, tempat-tempat diskusi, atau menjadi kehebohan di dunia sosial. Maka fokus publik hanya pada siapa yang di dalam rekaman itu, siapa saja yang disebut, atau mempersoalkan sidang yang meributkan soal rekaman itu.

Di luar itu, dalam persoalan yang sebenarnya lebih substansial, dilupakan publik atau memang terlupakan. Atau memang ada semacam pabrikasi isu yang membuat publik agar melupakan persoalan sebenarnya.

Di luar kisah perselingkungan ini, perlu dicatat, ada juga perlombaan politik yang belum berhenti. Lebih mengerikan, kompetisi politik ini bukan terkait dengan peta politik setahun lalu. Dikotomi politik ini sudah berlalu, dan yang terjadi kini adalah persaingan di dalam. Inilah juga yang bisa menjadi benang merah di antara persoalan yang menjadi ramai ini.

Jamak diketahui, tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Maka antar-kawan itu saling mengintai. Siapa bisa menikam lebih dulu, maka dia yang akan menang. Maka ketika rekaman itu mencuat atau sengat diumbar, kelompok-kelompok ini menjadikan senjata untuk menikam satu sama lain.

Sayangnya, sutradara terlalu banyak, pun demikian juga dengan aktor. Sutradara dan aktor ini pun berbeda dengan mafia dari Sisilia, yang memegang teguh hukum omerta: tutup mulut. Maka "siapa orangnya siapa" menjadi kabur. Hal yang dilakukan adalah saling memanfaatkan momentum untuk saling menyingkirkan satu sama lain.

Maka tak heran bila ada elit yang kemudian tiba-tiba membicarakan kasus-kasus lama yang sangat besar.  Padahal elit ini sudah berkuasa berkali-kali, dan baru kali ini menyinggung persoalan yang disebut sebagai megakorupsi paling besar. Dia sedang berpacu dengan waktu; naik ke puncak kuasa atau disingkirkan lebih dulu.

Sayang, kasus perselingkuhan dan perang politik ini tak dibaca secara mendalam oleh banyak orang. Ah, andai saja semua perbincangan dan lalu lintas komunikasi semua elit ada rekamannya. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Perbedaan Perlakuan Tersangka Jadi Ujian Kesetaraan Hukum

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:23

KDKMP Kembalikan Kendali Ekonomi ke Warga Desa

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:19

Jangan Terjebak Angka, Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak ke Masyarakat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:24

Gus Salam: Caketum PBNU Harus Bersaing Secara Sehat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:21

Kuasa Hukum Yaqut Tegaskan Kebijakan Kuota Haji Harus Dinilai Utuh

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:14

Konsolidasi Rakyat untuk Pemerintahan Bersih

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:48

Petani Diminta Jangan Tertipu Konten Pupuk Viral di Medsos

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:23

Menteri Luar Negeri Layak Diganti karena Dicap Tidak Profesional

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:54

InfraNexia jadi Pilar Utama Bisnis Telkom untuk Wholesale Connectivity

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:27

BGN Libatkan Peran Guru Perkuat Pengawasan MBG

Minggu, 09 Agustus 2026 | 04:48

Selengkapnya