Berita

Eko Harijadi Budijanto, General Manager Pelindo III:net

Chat News

Pejabat Jangan Seenaknya Todong Pistol ke Rakyat

Kalau Tak Mau Dipenjara
SENIN, 07 DESEMBER 2015 | 09:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kelakuan arogan pejabat kembali terjadi. Di Surabaya, Eko Harijadi Budijanto, General Manager Pelindo III terpaksa harus berurusan dengan polisi lantaran menodongkan pistol ke seorang penjaga toko. Di dunia maya, kasus ini jadi sorotan netizen. Onliner nyeletuk, kalau gak mau dibui, jangan seenaknya todongkan pistol ke rakyat.

Peristiwa penodongan terjadi di Gerai Samsung Plasa Marina Surabaya, Sabtu (06/12) siang. Saat itu, Eko membeli sebuah ponsel cerdas senilai Rp 9,3 juta. tas pembelian itu, Eko berhak mendapatkan hadiah langsung berupa pelindung keyboard dan power bank. Namun, saat hendak mengambil bonus yang dimaksud, si penjaga toko Muhammad Shofi, mengatakan stok habis dan menjanjikan akan menghubungi Eko jika bonus sudah ada.

Kecewa karena merasa gerai resmi itu tak menepati janji, ia lalu menodongkan senjata ke kepala Shofi. "Pelaku marah-marah, lalu menodongkan pistol ke arah pegawai ponsel itu," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Ajun Kombes Takdir Mattaneter, di kantornya, kemarin.


Informasi yang dihimpun, Eko sempat marah-marah kepada karyawan toko ponsel tersebut. "Kamu belum tahu siapa saya," kata dia sambil menodongkan senjata api ke bagian kepala karyawan. Hal itu membuat pengunjung toko panik karena ketakutan. Tidak hanya menodongkan senjata api ke kepala Shofi, Eko dilaporkan juga sempat mendorong kepala Shofi dengan tangan kosong.

Tak terima, Shofi akhirnya melaporkan Eko ke polisi. Tak butuh lama bagi Kepolisian Surabaya untuk menangkap pelaku. Sabtu malam Eko diamankan polisi di kantornya daerah Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan pistol jenis air soft gun sebagai barang bukti. "Saat diamankan pelaku tak melawan dan langsung menjalani pemeriksaan," kata Takdir.

Usai pemeriksaan, kemarin polisi akhirnya menetapkan Eko sebagai tersangka dan langsung ditahan di Polrestabes. Pelaku dikenakan pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan yang disertai ancaman, dengan ancaman hukuman satu tahun penjara. Kepolisian juga tengah mendalami undang-undang darurat, untuk mempertimbangkan apakah senjata air soft gun masuk kategori senjata api. "Setelah kami periksa secara maraton sejak kemarin dan sudah kita gelarkan, maka yang bersangkutan kami naikkan statusnya menjadi tersangka," ujar Takdir.

Akibat kelakuannya itu, Eko tak hanya dibui tapi juga dinonaktifkan dari jabatannya. PT Pelindo III membebastugaskan Eko dari pekerjaannya.

Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto mengungkapkan, perusahaan sangat menyesalkan kejadian yang terjadi, meskipun itu bersifat pribadi dan bukan terkait urusan pekerjaan. "Pembebastugasan ini ditujukan agar kepolisian dan pihak-pihak terkait dapat fokus mengikuti pemeriksaan dan proses hukum yang berlangsung," kata Edi dalam siaran pers kemarin. Manajemen operator kepelabuhanan tersebut akan mengevaluasi pekerjanya agar tidak terjadi kejadian serupa di kemudian hari.

Di dunia maya, kasus ini jadi sorotan. Onliner gemas masih ada saja pejabat yang arogan. "Pejabat kok seperti preman," ujar Onaas Wangko. "Bukan polisi bukan tentara, mau beli hape kok bawa pistol. Bonusnya kasih kalau sudah di penjara," ucap Mig27. "Sekarang banyak pejabat stres. Bui sajalah yang lama, biar istirahat di jeruji besi. Siapa tahu sadar," sambar Pratono Senyoto.

Tweeps yang lain ikut geleng-geleng kepala. "Kamu itu gayanya kayak penguasa bumi saja. Kualat sekarang," ujar Mas Broo. "Emosinya labil. Mentang-mentang preman pelabuhan. Perlu dicopot memang orang kayak begini," tutur @blontangbadala. "Hahaha.. kena imbasnya kan lu rasain tuh. Makanya jangan arogan kalau gak mau dipenjara," ujar fudlizonk.

Sebagian onliner menyoroti pelayanan gerai ponsel. Kata dia, kasus ini tak akan terjadi jika gerai prima dalam meberikan pelayanan. Menurutnya, jumlah bonus harusnya sama dengan jumlah handphone. "Hpnya masih ada, ke mana bonusnya? Seandainya memang kurang, bisa dilaporkan dari awal ke distributor, untuk menghindari masalah dengan pembeli. Saya juga marah kalau mengalaminya," ucap Pratiwi di tempat yang sama. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya