Berita

foto: istimewa

Pertahanan

Focus Group Discusion TNI AL Fokus Bahas Kejahatan Laut

KAMIS, 03 DESEMBER 2015 | 13:46 WIB | LAPORAN:

Masalah yang cukup serius dan sangat menghambat pembangunan sektor kelautan dan perikanan adalah adanya praktek kejahatan di, dan, atau lewat laut. Kejahatan tersebut mulai dari kejahatan pelayaran, peredaran obat terlarang lewat laut, penyelundupan orang, perdagangan manusia, migrasi ilegal, perompakan, pembajakan laut, penyelundupan senjata, terorisme, sampai illegal fishing. Kejahatan laut tersebut telah berkembang baik pelaku, modus dan operandi serta cakupan yang berdimensi lintas negara.

Demikian hal yang dibahas dalam kegiatan Focus Group Discusion (FGD) yang diselenggarakan oleh Dinas Pembinaan Hukum Angkatan Laut (Diskumal), bertempat di Wisma Elang Laut, Jakarta, kemarin.

Menurut Kepala Dinas Pembinaan Hukum Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Supradono, S.H., Focus Group Discusion tersebut dimaksudkan untuk memberikan masukan dalam penanganan tindak pidana transnational crime khususnya penanganan kejahatan pembajakan dan illegal fishing yang ditangani oleh penyidik TNI AL.


"Sedangkan sasarannya adalah mampu menyerap dan menerima masukan dalam penanganan penegakan hukum di laut terkait kejahatan pembajakan dan illegal fishing (transnational crime),” ujar Laksamana Pertama TNI Supradono, S.H dalam surat elektronik yang dikirim ke redaksi, Kamis (3/11).

Sementara itu Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksamana Muda TNI Ari Soedewo mengatakan bahwa keberadaan tindak pidana lintas negara (transnational crime) tidak terlepas dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Pada saat ini kejahatan transnational telah berkembang menjadi tindak pidana terorganisasi yang dapat dilihat dari lingkup, karakter, modus operandi, dan pelakunya. Wilayah perairan Indonesia yang memiliki sumber kekayaan alam bisa menjadi peluang bagi bangsa Indonesia, tetapi juga sekaligus dapat menjadi kendala bagi bangsa Indonesia dalam mengelola lautnya,” tegas Laksamana Muda TNI Ari Soedewo .

Tugas penegakan hukum terhadap pengungkapan kejahatan pembajakan dan illegal fishing yang masuk dalam kategori transnational crime, lanjut Asops Kasal, masih ditemukan adanya kendala dalam penyelesaian proses hukumnya, terutama dalam penanganan para pelaku maupun bukti-bukti yang berada di luar negeri, hal ini karena setiap negara memiliki prosedur penanganan yang berbeda.

Asops Kasal juga menjelaskan kategori yang kejahatan yang digolongkan transnational crime, yakni : bila dilakukan lebih dari satu negara. Bila dilakukan di suatu negara tetapi persiapan, perencanaan, pengarahan dan pengendalian atas kejahatan tersebut dilakukan di negara lain. Kemudian apabila dilakukan di suatu wilayah negara tetapi melibatkan suatu kelompok pelaku tindak pidana lebih dari satu negara.

"Serta bila dilakukan di suatu wilayah negara tetapi akibat yang ditimbulkan dirasakan oleh negara lain,” jelas Asops Kasal.

Sejumlah pejabat hadir dalam acara tersebut, diantaranya Dirjen HPI Kementerian Luar Negeri Ferry Adamhar, S.H, LLM., Kabag Hukum, Organisasi dan Humas Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan Teuku Elfitrasah, S.H, M.M., Kabag Kejahatan Internasional Mabes Polri Kombes Pol Puji Sarwono, Koordinator Jampidum Kejagung Datas Ginting, S.H., Kasubdis Tertib Pelayaran Direktorat KPLP Kementerian Perhubungan Captain Jonggung Sitorus, para pejabat utama TNI AL, pejabat Bakamla, HNSI, INSA, akademisi, serta perwira hukum TNI AL. [sam]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya