Berita

bung karno/net

Politik

Rachmawati: Bung Karno Pun Tidak Pantas Jadi Pahlawan Nasional

MINGGU, 22 NOVEMBER 2015 | 21:16 WIB | LAPORAN:

Pemerintah Indonesia pada tahun 2012 telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Proklamator Kemerdekaan RI, Ir. Sukarno alias Bung Karno. Gelar Pahlawan Nasional untuk presiden pertama Indonesia itu diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan disambut sukacita banyak kalangan.

Namun, ada juga yang menilai gelar Pahlawan Nasional tidak pantas diberikan kepada Bung Karno. Mengingat sampai sekarang Bung Karno masih menjadi sosok yang terhukum secara politik oleh negara, melalui TAP MPRS 33 tahun 1967.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk Bung Karno yang tidak didahului dengan pencabutan TAP MPRS tersebut menjadi preseden buruk.


Penilaian ini disampaikan salah seorang putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, dalam dialog dengan redaksi, Minggu petang (22/11) di kediamannya, Jalan Jatipadang Raya, Jakarta.

"Sejak awal saya tidak setuju Bung Karno diberi gelar Pahlawan Nasional sementara TAP MPRS 33 tidak dicabut," kata Rachmawati.

Pernyataan itu disampaikannya saat mengomentari gelar Pahlawan Nasional untuk Abdurrahman Wahid alis Gus Dur yang pembahasannya diendapkan pemerintah.

Mantan juru bicara Gus Dur, Adhie Massardi mengatakan, Gus Dur tidak pantas mendapatkan gelar Pahlawan Nasional selama semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya sampai dia dilengserkan tidak dicabut dan nama baik Gus Dur tidak direhabilitasi.

Kata Rachma, sikap Adhie Massardi itu sudah tepat. Rachma mengatakan sikapnya juga demikian untuk gelar Pahlawan Nasional bagi Gus Dur dan ayahnya sendiri, Bung Karno.

Masih menurut Rachma, sebelum memberikan gelar Pahlawan Nasional untuk Bung Karno, pemerintahan SBY melobi anak-anak Bung Karno di kediaman Megawati Soekarnoputri.

"Saya tidak diundang dan baru tahu kemudian. Kalau saya diundang saya akan menolak dengan pertimbangan nama baik Bung Karno harus dipulihkan lebih dahulu dan TAP MPRS 33 itu dicabut," tegasnya. [wah] 

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya