Berita

sudirman said/net

Politik

Rakyat Belum Menikmati Kinerja Sudirman Said

JUMAT, 20 NOVEMBER 2015 | 00:23 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Publik mempertanyakan tindak tanduk Menteri Energi Sumber Daya Mineral Sudirman Said belakangan ini. Sejauh ini ada yang menganggap Sudirman bukanlah 'pahlawan' dan bahkan hanya menjadi beban pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Bagaikan pendekar dewa mabuk, Sudirman Said melabrak pihak-pihak yang dianggapnya pencari rente. Namun, apakah kebijakan Sudirman Said sudah menguntungkan rakyat Indonesia? Apakah berimbas kepada rakyat? Menurut saya rakyat tidak dapat apa-apa," kata Sekjen Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) Sya'roni kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (19/11).

Dia mencontohkan kebijakan Sudirman Said yang tidak menguntungkan rakyat Indonesia antara lain membubarkan Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) dan menghidupkan Integrated Supply Chain (ISC), dua kali mengizinkan Freeport mengekspor kondensat padahal belum membangun smelter, mempercepat pembahasan perpanjangan kontrak kepada Freeport padahal semestinya baru dibahas pada 2019.

Dalam kasus pembubaran Petral, sebut Sya'roni, Sudirman Said mengatakan dengan ISC diharapkan Pertamina mendapatkan harga minyak yang terbaik. Tapi kenyatannya, meskipun harga minyak dunia terus menurun, rakyat masih dipaksa menerima harga yang BBM yang tinggi.

"Jadi, hingga sekarang rakyat belum menikmati hasil kinerja Sudirman Said. Dia bisanya hanya memproduksi hal-hal yang sifatnya bombastis namun gagal memberikan efek kesejahteraan kepada rakyat," imbuh Sya'roni.

Karena itu pula, manuver Sudirman Said membeberkan pertemuan Setya Novanto dengan petinggi Freeport, menurut Sya'roni, bisa jadi lebih didasari perasaan ketakutan "lahannya" diserobot orang. Bukan untuk membela kepentingan bangsa Indonesia sebagaimana yang digembar-gemborkannya selama ini.

"Kalau mau dianggap pahlawan, Sudirman Said semestinya membuka poin-poin negosiasi dengan Freeport. Sejauhmana negosiasinya itu akan menguntungkan rakyat. Kalau serba tertutup begini dikhawatirkan akan terjadi deal-deal tertentu yang tidak menguntungkan rakyat Indonesia," demikian Sya'roni.[dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Kopilot Malaysia Ngaku Diupah Rp220 Juta Selundupkan 26 Kg Ekstasi ke Jakarta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:20

Merdeka dalam Keserakahan: Ilusi Kemerdekaan di Usia 81 Tahun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:02

Polda Metro Masih Selidiki Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pendeta

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:52

Loyalis Anies Dicecar KPK soal Jual Beli Properti di Kasus TPPU Rita Widyasari

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:25

Begini Respons Deddy Sitorus Usai Dilaporkan KWP ke MKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:02

Warga Tuban Terdampak Debu Pabrik, Semen Indonesia Mangkir Dipanggil DPRD

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:11

Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI Buka Jalan Akses Finansial Pulau Seram

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:02

Bea Cukai Ciduk Kopilot Kurir Narkoba, Duit Negara Rp207,9 Miliar Selamat

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:41

Transformasi Danantara Dongkrak Pendapatan Telkom hingga Tembus Rp75,9 Triliun

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:22

Polda Metro Jaya Cokok 728 Tersangka Curanmor

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:06

Selengkapnya