Berita

Taufik Basari/net

Hukum

Nasdem: Tragedi 1965 Mesti Diselesaikan Di Indonesia

SABTU, 14 NOVEMBER 2015 | 02:31 WIB | LAPORAN:

International People's Tribunal atau Pengadilan Rakyat Internasional terkait dugaan pelanggaran HAM tahun 1965 yang digelar di Den Haag, Belanda pertengahan November ini menuai polemik. Pemerintah Indonesia semestinya bisa menyelesaikan tragedi tersebut di Tanah Air tanpa perlu campur tangan dunia internasional.

Ketua DPP Partai Nasdem Bidang Hukum dan HAM Taufik Basari menilai penyelesaian tragedi kemanusiaan 1965 di pengadilan internasional Belanda bisa memberikan kesan kepada dunia bahwa mekanisme penegakan HAM di Indonesia tidak berjalan. Terlebih, dalam Nawacita, Pemerintah telah berjanji untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk tragedi 1965.

"Semestinya pengadilan rakyat untuk kasus 1965 di Den Haag memicu Presiden untuk segera menuntaskan kasus 1965 di dalam negeri sesuai janjinya dalam Nawacita. Kita harus mampu menyelesaikan tragedi kemanusiaan 1965 di dalam negeri, ini tantangan bagi kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan," jelas Taufik kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (14/11).


Menurutnya, bangsa Indonesia harus belajar untuk berjiwa besar terhadap peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu, dan mengakuinya sebagai bagian dari sejarah agar tidak terulang kembali di masa depan.

Namun, papar Taufik, bangsa ini juga harus mau membuka diri untuk rekonsiliasi agar dapat melangkah maju ke depan tanpa beban berkepanjangan. Untuk itu dirinya mengharapkan Presiden Joko Widodo harus segera mewujudkan proses pengungkapan kebenaran dan dilanjutkan dengan rekonsiliasi untuk tragedi kemanusiaan 1965.

"Ini saatnya pemerintah tuntaskan janjinya dalam Nawacita, agar tidak perlu lagi ada pihak yang membawa kasus-kasus serupa ke dunia internasional. Kita sebagai bangsa harus mampu menyelesaikan persoalan kita sendiri dengan mengedepankan semangat kebersamaan, kebangsaan dan keadilan," tandasnya.

Diketahui, Pengadilan Rakyat Internasional mulai digelar pada 10 November 2015, dibentuk oleh masyarakat sipil dan aktivis yang peduli terhadap HAM di Indonesia.

Mereka menilai, negara bertanggung jawab atas pembunuhan massal, penculikan, penganiayaan, kekerasan seksual, dan campur tangan negara lain yang terjadi di Indonesia pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965. [wah] 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Safari Politik Jokowi Tak Pengaruhi Elektabilitas PDIP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:14

Seruan Reformasi Jilid II Bukan Aspirasi Mahasiswa

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:00

Safari Politik Jokowi cuma Demi Gibran dan Kaesang

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:41

Empat Nyawa Sudah Cukup, Setop Latsarmil SPPI

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:23

Sarasehan KPPG: Keterwakilan Perempuan 30 Persen Bukan Sekadar Kuota

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:06

Edi Hasibuan: Masyarakat Mulai Merasakan Perubahan Polri

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:03

Universitas Bakrie Tiga Besar dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:42

Pakai Dump Truk, Polisi Kawal Massa Pendukung MBG di Tuban

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:24

Jubir FAM UBK: Ada Aktor Intelektual Sengaja Rusak Citra Kampus dan Wapres

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:22

DPR Usul Kemenukbangga Jadi Penyalur BLT

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:03

Selengkapnya