Indonesian Corruption Watch (ICW) bersikap aneh. Bukannya kritis terhadap kasus-kasus korupsi besar di Pemprov DKI, ICW malah 'menyerang' pejabat BPK DKI yang melakukan audit terkait dugaan korupsi tersebut. Kritikan pun mengalir. ICW disarankan ganti nama.
"Jadi TPA aja, Tim Pelindung Ahok. Ubah nama, nama itu (Indonesian Corruption Watch) udah gak relevan lagi," kata aktivis dan budayawan Ratna Sarumpaet kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu (Jumat, 13/11).
Ratna beralasan ICW sudah menodai nama besarnya sendiri. Demi membela Ahok, ICW tak peduli melakukannya dengan cara-cara adu domba. Sementara itu, ICW sama sekali tak peduli, misalnya terkait hasil audit BPK yang menemukan indikasi kerugian negara dalam pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras (RSSW) oleh Ahok.
"Sebaiknya jangan pake nama itu (ICW) lagi. ICW seperti mewakili Ahok dengan fitnah dan tuduhan. ICW mengadu domba BPK dengan KPK," kata Ratna.
Pernyataan keras Ratna ini disampaikan sebagai komentar atas langkah ICW yang melaporkan kasus dugaan potensi konflik kepentingan dan pelanggaran etik yang dilakukan Kepala BPK Perwakilan Jakarta ke Inspektorat Utama BPK.
'Serangan' ICW dilakukan di saat auditor Negara itu melakukan audit investigatif terkait pembelian lahan RSSW. Hasil audit tahap pertama BPK menemukan indikasi kerugian APDB DKI Rp 191 miliar dari pembeliah lahan tersebut.
Tadi siang, Ratna bersama sekitar 20-an aktivis, pemerhati dan warga DKI yang konsen menyorot berbagai skandal di Pemprov DKI dibawah kepemimpinan Ahok mendatangi Kepala BPK DKI Efdinal di kantornya untuk melakukan klarifikasi. Pertemuan berlangsung sekitar tiga jam dari pukul 13.00 hingga 16.00 Wib.
Mendapat penjelasan dari Efdinal bahwa dirinya tidak salah dan serangan ICW tak berdasar, Ratna cs komit mendukung BPKP DKI untuk menuntaskan audit investigasinya.
"Kita dukung untuk diselesaikan audit invetsigasinya, kita dorong Kepala BPKP DKI tidak kendor. Kita mau audit investigasi yang diminta KPK betul-betul dikerjakan dan bisa selesai akhir bulan ini seperti yang dijanjikan," kata Ratna.
"Kami sesalkan ICW kenapa jadi makelar kasus. Dia LSM anti korupsi, kenapa berubah kelakuan," demikian Ratna.
[dem]