PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI), perusahaan yang menÂgelola sampah DKI di TPST Bantargebang, Bekasi Jawa Barat, menunjuk Yusril sebagai kuasa hukum untuk menghadapi gugatan Ahok.
Kedua perusahaan itu berÂniat menggugat balik Ahok. Perseroan menuding Pemprov DKI sudah wanprestasi. Yusril menjelaskan, sesuai perjanjian, volume sampah yang dikirim Pemprov DKI setiap tahun seÂharusnya menyusut. Pada tahun 2008, 4.500 ton per hari, tahun 2013 turun menjadi 3.000 ton per hari, tahun 2016 turun menÂjadi 2.000 ton per hari. "Nah ini tahun 2016 kan sebulan lagi tapi kenyataannya sampah yang dikirim itu bukannya menurun, malah tambah banyak. Terakhir jumlah sampah yang dikirim itu sudah 6.800 ton per hari, dari yang seharusnya 2.000 ton pada tahun 2015," jelas Yusril. Berikut wawancara Yusril denÂgan Rakyat Merdeka yang diÂhubungi melalui sambungan telepon kemarin;
Apa sebenarnya yang diÂinginkan kedua klien Anda?
Kami kan sebenarnya berkeÂinginan masalah ini diselesaiÂkan melalui negosiasi. Sesuai dengan rekomendasi BPK itu, bahwa kedua belah pihak duduk bersama membahas hambatan-hambatan dari perjanjian ini lalu kemudian melakukan adendum (tambahan klausul atau pasal) terhadap perjanjian yang menÂguntungkan kedua belah pihak. Kalau tidak ada respons juga dari pemerintah DKI, kami akan menggugat Pemda DKI dengan gugatan wanprestasi.
Kami kan sebenarnya berkeÂinginan masalah ini diselesaiÂkan melalui negosiasi. Sesuai dengan rekomendasi BPK itu, bahwa kedua belah pihak duduk bersama membahas hambatan-hambatan dari perjanjian ini lalu kemudian melakukan adendum (tambahan klausul atau pasal) terhadap perjanjian yang menÂguntungkan kedua belah pihak. Kalau tidak ada respons juga dari pemerintah DKI, kami akan menggugat Pemda DKI dengan gugatan wanprestasi.
Wanprestasi yang anda maksud itu apa?Wanprestasi karena jumÂlah sampah yang dikirim ke Bantargebang itu tidak sesuai dari apa yang diperjanjikan. Kita tahu bahwa di dalam perjanjian, sampah yang dikirim itu tahun 2008, 4500 ton. Tahun 2013 turun menjadi 3000 ton, tahun 2016 turun menjadi 2.000 ton. Ini kan sebulan lagi 2016, tapi kenyataannya sampah yang dikirim itu bukannya tambah sedikit tapi tambah banyak. Terakhir jumlah sampah yang dikirim itu sudah 6.400 ton lebih. Timbangannya yang beÂnar itu 6.800 ton per hari. Dari yang seharusnya 2.000 ton pada tahun 2015.
Masalah tipping fee baÂgaimana?Jadi masyarakat itu yang tahu cuma masalah
tipping fee ya. Jadi sumber pendapatan dari PT Goedang Toa dan PT NOI, Navigate itu kan ada beberapa jenis pendapatan yang bisa merÂeka peroleh itu. Pertama dari
tipÂping fee. Kedua, dari mengubah sampah itu menjadi kompos, dan menjadi turunan bijih plastik itu menjadi tugas PT Goedang Toa. Kemudian mengubah sampah itu menjadi gas metan dan kemudiÂan mengubahnya menjadi energi listrik. Kalau pada PT Goedang Tua itu nggak terlalu banyak masalah, karena bisa mengolah sampah itu menjadi kompos dan daur ulang bijih plastik. Yang menjadi masalah besar itu di PT NOI, itu tidak seperti yang Ahok bilang, tidak membangun fasilitas gasifikasi.
Jadi tudingan Ahok itu tidak benar?Fasilitas gasifikasi sudah dibangun oleh PT NOEI untuk mengubah gas itu menjadi energi listrik. Masalahnya adalah target listrik yang dihasilkan PT NOEI 16 MW tidak tercapai karena jumlah sampah melebihi dari yang diperjanjikan. Dia sudah bangun fasilitas, maksimum 4.500 (ton) pada tahun 2008 dan makin menurun. Kalau sampai dikirim 6 ribu (ton) lebih, berarti dia kan harus membuat fasilitas tambahan. Sementara fasilitas tambahan tidak ada dalam perÂjanjian. Jangan dilupakan, bahÂwa ini bukan proyek pengadaan barang dan jasa pemerintah. Mereka kan investasi, sebagai pemenang tender mereka invest. Tapi kalau dalam invest itu ada satu pihak tidak memenuhi perÂjanjian, sampah dikirim lebih dari itu, maka PT NOI-nya kolaps. Sehingga listrik yang dihasilkan cuma 2,5 MW dari yang seharusnya 16 MW.
Lalu bagaimana dengan persoalan rekening yang disebut-sebut Ahok?Rekening itu kan ada rekenÂing yang dibangun oleh
joint operation (JO) untuk menamÂpung uang
tipping fee. Tapi karena tugas PT Goedang Tua mulai membuat kompos dan kemudian daur ulang bijih plasÂtik, itu rekeningnya rekening Goedang Tua. Sebaliknya juga yang menghasilkan gas metan dan listrik itu rekeningnya NOI. Karena perjanjiannya kan dengan JO (
Joint Operation). Jadi JO itu tidak membentuk peruÂsahaan baru, NOEI tetap NOEI, Goedang Tua tetap Goedang Tua. Dan siapa melakukan apa itu sudah ada di dalam perjanÂjian. Ahok kan selalu bilang Goedang Tua-Goedang Tua, dia nggak ngerti. ***