Berita

Hukum

Komisioner KPK: Penahanan Tersangka DPRD Sumut Tergantung Penyidik

SELASA, 10 NOVEMBER 2015 | 17:26 WIB | LAPORAN: FEBIYANA

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Zulkarnaen mengatakan pihaknya belum mengelurkan surat perintah penahanan (sprinhan) untuk beberapa anggota DPRD Sumatera Utara yang diperiksa hari ini sebagai tersangka kasus dugaan suap anggota DPRD periode 2009-2014 dan 2014-2019.

"Belum (sprinhan)," ujar Zulkarnaen lewat pesan singkat, Selasa (10/11).

Dia jelaskan, penahanan beberapa anggota DPRD Sumut itu tergantung dari penyidik KPK.


"Itu kan nanti penyidik yang menindaklanjuti (penahanan)," jelasnya.

Dia melanjutkan, menahan seseorang yang ditetapkan sebagai tersangka tidak mudah. Pihak penyidik KPK harus benar-benar memastikan apakah yang bersangkutan  mengetahui sumber dana tersebut berasal dari sumber yang bermasalah.

"Ya kita tidak sesederhana itu. Orang yang menerima itu tahu gak dari dana yang bermasalah. Yang lain-lain ini menerima. Mungkin tidak diketahui, jadi hanya mengembalikan," demikan Zulkarnaen.

Hari ini KPK kembali memeriksa anggota DPRD Sumut Ajib Sah, Chaidir Ritonga dan Saleh Bangun sebagai tersangka. Sebelumnya, Jumat (6/11) lalu KPK sudah memeriksa Ajib Sah dan Chaidir Ritonga sebagai saksi terkait kasus yang menyeret sejumlah anggota DPRD Sumut tersebut. Namun, usai jalani pemeriksaan kedua anggota DPRD Sumut itu enggan berbicara.

KPK menetapkan Gatot Pujo Nugroho sebagai tersangka kasus pemberian hadian atau janji kepada anggota DPRD prov Sumut 2009-2014 dan 2014-2019 terkait persetujuan laporan pertanggungjawaban pemprov sumut 2012-2014, persetujuan perubahan APBD sumut 2013 dan 2014, pengesahan APBD sumut 2014 dan 2015, serta penolakan penggunaan hak interpelasi DPRD prov Sumut tahun 2015.

Gatot dijerat pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau pasal 13 UU 31/1999 diubah 20/2001 jo pasal 64 ayat 1 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP, sebagai pemberi. Sedangkan Saleh Bangun, Chaidir Ritonga, Kamaludin Harahap, Sigit Pramono Asri, serta Ajib Shah diduga menerima hadiah atau janji melanggar pasal 12 huruf a atau b atau pasal 11 uu 31/1999 diubah 20/2001 jo pasal 64 ayat 1 dan pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. [sam]

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

UPDATE

34 Ribu Kendaraan Melintas Padalarang dan Lembang, Mayoritas Roda Dua

Rabu, 25 Maret 2026 | 15:55

Tinjau Terminal Pulo Gebang, Seskab Teddy Jamin Arus Balik Lancar

Rabu, 25 Maret 2026 | 15:38

Akui Coretax Bermasalah, Purbaya Perpanjang Deadline Lapor SPT hingga Akhir April 2026

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:48

Energi Filipina Masuk Zona Waspada, Presiden Marcos Aktifkan Mode Siaga

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:27

Dugaan Intervensi Politik Bayangi Penanganan Kasus Yaqut di KPK

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:10

Emas Mulai Ditinggalkan, Investor Lirik Bitcoin sebagai Aset Aman

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:06

Mendagri: Sumbar Capai 100 Persen Pemulihan Pascabencana, Sumut-Aceh Belum

Rabu, 25 Maret 2026 | 13:39

Tren Nikah Melonjak Usai Lebaran, Kemenag Pastikan KUA Siaga Meski WFA

Rabu, 25 Maret 2026 | 13:20

Ledakan Wisatawan Lebaran di Jabar, DPRD Ingatkan Waspada Bencana dan Pungli

Rabu, 25 Maret 2026 | 13:01

IHSG Menguat ke Level 7.199 di Sesi I Rabu Siang, Ratusan Saham Menghijau

Rabu, 25 Maret 2026 | 12:28

Selengkapnya