Berita

ilustrasi/net

On The Spot

Gardu Listrik Meledak, Tiga Mesin Pres Sampah Mati Total

UTPSTK Sunter Jadi Alternatif Bantar Gebang
SELASA, 10 NOVEMBER 2015 | 10:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kisruh kerap berulang di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Sebagai alternatif pembuangan, truk-truk sampah mengirim muatan ke Unit Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Kota (UTPSTK) Sunter, Jakarta Utara.

UTPSTK Sunter, di Jalan Danau Sunter Barat, Sunter Agung, terlihat lengang. Tidak ada lagi antrean truk sampah mengular di gerbang pintu masuk, karena se­jumlah masalah di TPST Bantar Gebang. Bahkan, tidak satu truk pun masuk mengirim sampah ke tempat itu, kemarin.

"Dari Sabtu tidak ada truk masuk. Biasanya, truk odong-odong saja yang kirim sampah," ujar Heri, satpam UTPSTK Sunter sembari bermain catur dengan rekannya di area pos jaga.


Disebut truk sampah odong-odong, karena truk sampah yang biasa masuk ke tempat pengola­han sampah di Sunter itu adalah truk-truk rusak. Rata-rata truk itu sudah tua, atau produksi di bawah tahun 2005. Tidak hanya itu, bagian baknya pun sudah tambalan.

Agar sampah tidak tercecer saat perjalanan dari spot-spot pe­nampungan sampah di Jakarta, truk sampah odong-odong itu perlu menutup bagian atap bak dengan terpal. Karena faktor teknis itulah, mengapa sampah-sampah di Jakarta banyak yang tidak langsung dibawa ke Bantar Gebang.

Pekan lalu, terjadi penolakan warga terhadap truk-truk sampah dari Jakarta yang menuju Bantar Gebang. Sejumlah truk sampah terpaksa balik kanan dari akses menuju Bantar Gebang, tepatnya di Jalur Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Akibat penolakan itu, truk-truk tersebut membuang sampah di empat titik UTPSTK Jakarta. Yaitu, di Cakung-Cilincing, Sunter, Duri Kosambi-Cengkareng, dan Marunda. UTPSTK Sunter, sempat menjadi spot penam­pung terbanyak. "Waktu ditolak Bantar Gebang, ada 200-an truk sampah ke sini. Sampai malam tidak putus," kata Heri.

Beruntung, aksi penolakan warga tidak berlangsung lama. Sejak Minggu (8/11), Bantar Gebang telah menerima sampah Jakarta lagi. Sementara warga Cileungsi yang menutup jalan terhadap truk-truk sampah, su­dah membuka blokade sejak Sabtu (7/11).

Sedangkan UTPSTK Sunter sejak Sabtu lalu sepi pengiriman sampah. Normalnya, tempat itu menampung angkutan 100 truk sampah rusak setiap harinya. Pada Jumat (6/11) malam, dua gardu listrik di tempat itu rusak. "Gardu listrik meledak, alat pres sampah tak bisa dinyalakan," kata Heri.

Dikontak Rakyat Merdeka, Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Asep Kuswanto men­gakui UTPSTK Sunter tidak digunakan sementara waktu karena kurangnya asupan listrik. Alhasil, tiga mesin pres sampah di tempat itu mati total. "Bukan alatnya yang rusak, tapi lis­triknya tidak ada. Jadi, tidak bisa pres sampah," kata Asep.

Diceritakan Asep, kasus ber­mula ketika gardu listrik untuk wilayah Kemayoran, terjadi korsleting dan meledak pada Jumat malam. Seluruh pemuki­man di Kemayoran pun padam. Termasuk, asupan listrik di se­bagian area UTPSTK Sunter.

Singkat cerita, petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) berupaya memperbaiki. Saat dihidupkan, ternyata satu gardu listrik khusus tiga alat pres di UTPSTK Sunter, ikutan meledak. Alhasil, UTPSTK Sunter tidak dapat mengolah sampah.

"Area Kemayoran tetap nyala, tapi gardu kita yang rusak. Sampai saat ini masih tunggu PLN memperbaikinya. Untung seluruh sampah kiriman Jumat sudah kita pres," ucap Asep.

Tata cara UTPSTK Sunter mengelola sampah adalah melakukan pressing terhadap ribuan ton sampah yang dikirimkan truk-truk sampah. Sampah-sampah itu, kemudian dimasuk­kan ke dalam mesin pres raksasa untuk dipadatkan. Setelah padat dan berbentuk mirip kapsul, sampah padat kemudian dikirim­kan ke Bantar Gebang untuk dimusnahkan.

Asep pun melakukan pemantauan ke UTPSTK Sunter, ke­marin. Diyakini, tiga alat pres sampah tidak rusak. Namun, hanya aliran listriknya yang tidak ada. "UTPSTK Sunter kita tutup dulu. Jadi, truk yang sudah datang kita minta kembali ke kecamatan masing-masing," terangnya.

Sistem kerja pengiriman sampah ibukota diawali dari pengambilan sampah on the spot di kediaman warga, kemu­dian, ditampung ke seluruh area kecamatan di Jakarta. Setiap kecamatan, memiliki spot pe­nampungan sampah seperti bak sampah truk yang ditaruh di lahan-lahan kosong, atau di luar bangunan yang bisa keluar masuk truk sampah.

Meskipun diprediksi terjadi penumpukan sampah di tingkat kecamatan, Asep menyatakan bahwa penumpukan tidak akan lama. Pasalnya, ketika truk-truk odong-odong itu mengemba­likan sampah di tingkat ke­camatan, langsung disambut truk yang relatif bagus untuk diangkut langsung ke Bantar Gebang.

Pemantauan Rakyat Merdeka, sekalipun UTPSTK Sunter din­yatakan tutup sejak Sabtu (7/11), tidak terlihat tulisan atau papan pemberitahuan kalau tempat itu tutup. Bahkan, pagar hijau set­inggi 1,5 meter terbuka separuh. Sisa pagar terbuka, masih muat jika dilalui kendaraan jenis truk.

Di bibir gerbang, terlihat tiga buah truk sampah parkir. Bagian atapnya, tertutup terpal berwarna oren, khas Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

Truk itu terlihat bukan jenis odong-odong atau rusak, ben­tuknya masih mulus, dengan cat yang masih mengkilap. Truk itu, akan digunakan untuk me­nyambut sampah di penampun­gan sampah tingkat kecama­tan. "Intinya, yang bolak-balik Sunter itu hanya truk rusak yang riskan membawa sampah ke Bekasi," tegas Asep.

UTPSTK Sunter dan tiga pe­nampungan lainnya segera ber­solek. Tidak hanya melakukan pressing sampah menjadi padat, melainkan dapat melakukan pembakaran sampah dengan istilah intermediate treatment facilities (ITF). Saat ini, proyek itu masih tahap lelang. Dengan adanya ITF, dapat mengurangi jumlah sampah yang dikirimkan ke Bantar Gebang. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya