Berita

ilustrasi/net

Silatnas Golkar dan Kendali Kekuasaan

SENIN, 02 NOVEMBER 2015 | 10:12 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Silaturrahmi Nasional (Silatnas) Partai Golkar bisa dibaca dan dianalisa lebih luas. Dalam artian, Silatnas tidak hanya sekedar melulu persoalan internal Golkar, yang misalnya terkait dengan Pilkada Serentak.

Silatnas Golkar bisa dibaca dalam konteks politik nasional. Golkar merupakan salah satu kekuatan yang pantas diperhitungkan oleh siapapun yang berkuasa, atau oleh siapa pun yang mau berkuasa. "Ideologi kekaryaan" Golkar sendiri rasanya sulit bila terus menerus berada di luar kekuasaan.

Dalam konteks ini, maka Silatnas Golkar merupakan ekspresi pohon beringin yang sudah mulai terlalu kelelahan menghadapi persoalan dari dalam. Golkar akan siap-siap menyongsong kembali masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, yang tentu saja bersyarat; Golkar harus solid.


Silatnas adalah pembuktian bahwa Golkar siap bersatu dan bergandengan tangan "untuk berkarya lagi" di pemerintahan. Lebih-lebih Koalisi Merah Putih (KMP) kian mandul dan kian tak relevan, seperti baru-baru ini terlihat dari masalah RAPBN 2016

Ini satu bacaan. Pembacaan lain, malah bisa saja Golkar justru mau merebut kekuasaan, yang diakui atau tidak, penerimaan publik pada pemerintahan Jokowi semakin tipis saja. Pemerintahan Jokowi, sebab memang nama JK jarang disatukan dan dipadankan pada Jokowi. Kritik publik pun seakan-akan terfokus pada Jokowi, dan sedikit melupakan atau sengaja meminimalisir kritik pada JK.

Artinya apa? JK, yang menjadi Wapres "tanpa kaki" bisa saja mulai menarik gerbong Golkar untuk kembali mendominasi kekuasaan atau bahkan mengendalikan kekuasaan. JK, yang mantan ketua Umum Partai Golkar itu, tentu saja juga memberikan syarat dan ketentuan pada kader lain: Golkar solid dong!

Tentu saja waktu yang akan membuktikan pembacaan jenis ini. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya