Berita

net

Katnas Desak Menkominfo Tindak Lanjuti Gangguan Frekuensi TV

SABTU, 31 OKTOBER 2015 | 00:35 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Dugaan sabotase frekuensi yang dilakukan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) terhadap siaran di frekuensi U37 milik MNC TV merupakan sebuah tindak pidana.

Demikian disampaikan Koordinator Komunitas Audiens Televisi Nasional (Katnas) Jabotabek Jasman Purba dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat malam (30/10).

"Ini adalah tindakan pidana sebagaimana telah diatur dalam Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 4/2013 tentang Pelaksanaan Penegakan Hukum Terhadap Penyelenggaraan Penyiaran Tanpa Izin Serta Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Tanpa Izin untuk Keperluan Penyiaran," jelasnya.


Dijelaskan Jasman, dugaan sabotase frekuensi MNC TV oleh kelompok ilegal itu bisa dikenakan Pasal 33 ayat 1 UU Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi. Pelanggar undang-undang ini bisa dikenakan sanksi berupa penjara paling lama empat tahun dan/atau denda paling banyak Rp 400 juta.

"Bahkan apabila tindak pidana dalam Pasal 33 ayat (1) UU Telekomunikasi tersebut mengakibatkan matinya seseorang, maka bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun," sambungnya.

Untuk itu, Katnas mendesak pemerintah dalam hal ini Menkominfo untuk mengambil tindakan hukum agar aksi sabotase tidak kembali terjadi.

"Kami mendesak Menkominfo mengambil tindakan hukum dengan melaporkan kepada pihak yang berwajib terhadap kegiatan yang membuat kacau siaran MNC TV," pungkas Jasman.

Sebelumnya, stasiun televisi MNC TV mengalami gangguan lantaran frekuensi itu ditimpa siaran Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Kejadian itu terjadi dalam siaran resmi MNC TV pada Kamis 15 Oktober pukul 16.45 hingga pukul 18.40 WIB dan Jumat 16 Oktober pukul 16.30 hingga 20.00 WIB. Pihak MNC TV sudah melaporkan kejadian tersebut kepada regulator dalam hal ini Kementerian Kominfo. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan nyata dari pemegang regulasi penyiaran itu. [wah]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya