Berita

hafisz thohir/net

Politik

Komisi VI Sarankan Divestasi Saham Freeport Gunakan Mekanisme Share Swap

JUMAT, 23 OKTOBER 2015 | 12:02 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Keinginan pemerintah, dalam hal ini Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk dapat mengambil alih divestasi saham PT Freeport Indonesia sebesar 10,64 persen patut didukung. Tetapi perlu ada desain mekanisme yang tepat sehingga lebih menguntungkan bagi negara.

Begitu kata Ketua Komisi VI DPR RI Hafisz Tohir dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu, Jumat (23/10).

"Kami mengusulkan agar pemerintah menggunakan cara lain agar negara bisa mengklaim separuh saham yang ditawarkan tersebut. Yakni dengan cara share swap atau tukar guling saham. Jadi, negara tidak perlu lagi mengeluarkan uang dan APBN sepenuhnya digunakan untuk kepentingan rakyat dan pemulihan ekonomi saja," ujar politisi PAN itu.


Sementara untuk Rancangan APBN (RAPBN) 2016, Badan Anggaran (Banggar) DPR RI berencana merampingkan postur anggaran APBN. Artinya, mustahil bagi pemerintah bisa mengalokasikan dana untuk membeli divestasi saham PT Freport sebesar Rp 100 triliun. Terlebih target penerimaan pajak tahun ini yang sebesar Rp 1.500 triliun diprediksi hampir meleset.

Oleh karena itu, lanjutnya, melalui tukar guling saham ini pemerintah dapat mendorong BUMN di bidang pertambangan seperti PT Aneka Tambang/Antam (Persero) Tbk, PT Indonesia Asahan Aluminium/Inalum (Persero) Tbk, dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk secara bersama-sama menawarkan sahamnya kepada Freeport sebagai penukaran atas saham divestasi yang 10,64 persen tersebut.

"Kita ramai-ramai beli saham Freeport itu dengan cara imbal balik. Pemerintah tinggal menengahin. Negara tidak boleh lagi dibiarkan bernegosiasi langsung dengan perusahaan apapun. Negara harus berdaulat penuh, urusan bisnis bisa di selesaikan dengan mekanisme B to B," tandas Hafisz. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya