Berita

Lukman Hakim Saifuddin/net

Wawancara

WAWANCARA

Lukman Hakim Saifuddin: Hari Santri Dibuat Bukan Untuk Mengkotak-kotakkan Masyarakat

JUMAT, 23 OKTOBER 2015 | 09:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jutaan santri se-Indonesia kemarin khidmat memeriah­kan peringatan Hari Santri. Namun di balik itu, masih tersimpan perbedaan pendapat yang cukup dalam terkait penetapan Hari Santri di antara dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

NU girang dengan penetapan ini. "Kami bersyukur, Alhamdulillah. (Peringatan Hari Santri) ini ada­lah momen tepat untuk menela­dani spritualitas dan perjuangan para syuhada sholihin, pejuang-pejuang bangsa yang telah men­dahului termasuk Kiai Haji Hasyim Asy'ari," ucap Ketua Pengurus Besar NU Aizzuddin Abdurrahman.

Sebaliknya, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir tegas menolak penetapan Hari Santri. "Semangat Muhammadiyah itu semangat ukhuwah yang lebih luas di tubuh umat Islam, agar umat utuh, tidak terkotak-kotak pada kategorisasi santri dan nonsantri," tegasnya. Lalu, bagaimana Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin me­nanggapi perbedaan tersebut. Inilah sikapnya:


Muhammadiyah menolak adanya Hari Santri, ini ba­gaimana?
Pemerintah tentu tetap menghormati dan menghar­gai pandangan yang beragam di tengah-tengah masyarakat dalam menyikapi Hari Santri ini. (Muhammadiyah) mem­punyai pandangan atau sikap yang berbeda di tengah-tengah masyarakat terkait dengan Hari Santri. Kami tetap menghargai perbedaan pandangan itu.

Muhammadiyah menilai Hari Santri berpotensi mengkotak-kotakkan masyarakat Indonesia, apa tanggapan Anda?
Pemerintah tidak memiliki maksud atau keinginan, bahkan berpikir pun tidak untuk meng­kotak-kotakkan masyarakat.

Jadi apa tujuan dibuat Hari Santri itu?
Jadi (peringatan Hari Santri) ini dibuat semata-mata, selain memberikan apresiasi terhadap kontribusi yang telah diberikan santri, sekaligus untuk mengin­gatkan tanggung jawab ke depan bahwa menjaga ke-Indonesiaan kita ini juga bagian yang tidak boleh dikesampingkan, khusus­nya oleh kalangan santri. Jadi upaya ini tidak hanya seka­dar mengingatkan, tapi juga sekaligus meneguhkan, adanya tanggung jawab itu. Itu lalu ke­mudian dibuatlah hari santri oleh pemerintah. Seperti juga adanya Hari Ibu dan Hari TNI.

Bukankah sudah terlalu ban­yak hari besar Islam itu, jangan-jangan Hari Santri ini merupa­kan bagian dari kompensasi NU mendukung Jokowi-JK saat pilpres kemarin?
Sesungguhnya ini kan isu lama, aspirasi yang sudah cukup lama. Keinginan aspirasi yang sudah lama ada di kalangan umat Islam Indonesia ini yang kemu­dian oleh Presiden diakomodasi direalisasi. Tidak untuk hanya ormas tertentu, tapi ini untuk santri, santri itu kan umat Islam secara keseluruhan.

Anda tidak khawatir kalau penetapan ini justru ber­potensi memecah ukhuwah Islamiyah?
Ndak sama sekali. Jadi ini hanya kepada pandangan yang tentu berbeda tidak sama. Karena itu kan kita hormati kita hargai, tentu pikiran yang berbeda ini ada sisi-sisi postif yang bisa kita ambil sebagai pengingat kita, sebagai upaya kita dalam memahami bahwa ada pandan­gan berbeda di tengah-tengah masyarakat kita yang juga harus kita hormati dan kita hargai.

Imbauan Anda kepada mer­eka yang tidak setuju adanya Hari Santri?
Perbedaan pandangan atau penilaian terhadap Hari Santri ini tidak membuat kita sebagai umat, apalagi sebagai sebuah bangsa kemudian terbelah, jadi kita menyikapi perbedaan itu harus dalam perspektif positif. Karena pandangan itu juga dilandasi dengan ketulusan, keikhalasan bagaimana agar bangsa ini tidak terpecah belah tidak terkotak-kotak gitu, karenanya kita harus hormati harus kita hargai. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Gandeng Boulevard Coffee, Bank Syariah Nasional Perkuat Ekosistem Transaksi Masyarakat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:23

15 Tahun Mengaspal, 70 Mitra Driver Dapat Hadiah Umrah dari Gojek

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:11

AADI Laporkan Pengalihan Saham Hasil Buyback Lewat Bursa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:12

Kebakaran di Belakang RS PIK, Asap Tebal Membubung

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:11

Peradi Profesional Jakarta Dilantik, Harris Arthur: Integritas Adalah Marwah Advokat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:02

Purbaya Girang, Danantara Setor Dividen Rp120 Triliun ke Kas Negara

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:56

Chevron Siap Perluas Proyek Minyak di Venezuela

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:39

Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Wajib Beri Pilihan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:26

Amandemen UUD 1945 Didahului Pemufakatan Jahat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:12

Aktivis Senior Ingatkan Sudah Saatnya Kembali ke UUD 1945 Asli

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:39

Selengkapnya