Berita

Surya Paloh/net

Wawancara

WAWANCARA

Surya Paloh: Kasus Rio Capella Bisa Dibilang By Accident, Bisa Juga By Design

KAMIS, 22 OKTOBER 2015 | 08:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Eks Sekjen partai Nasdem Patrice Rio Capella ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi tersangka kasus suap dalam penanganan perkara korupsi dana Bantuan Sosial (Bansos) Sumatera Utara. Surya Paloh merasa partai sudah diluluhlantakkan akibat kasus ini. Bos Media Grup ini mengendus dugaan adanya rekayasa di balik kasus ini. "Kalau obektif tentu banyak kasus yang belum tersentuh. Iya juga ya, banyak kasus yang lebih gila, itu jelas," katanya.

Di temui di ruang kerjanya di DPP Nasdem Gondangdia Jakarta, Paloh yang mengena­kan kemeja putih berdasi sum­ringah menyambut kedatan­gan juru warta. Namun ketika sesi tanya jawab berlangsung, nampak emosi Paloh naik tu­run saat menjawab pertanyaan terkait perkara yang menjerat anak buahnya. Berikut kutipan wawancaranya;

Anda melihat kasus yang men­jerat Rio seperti apa? Apakah ada kemungkinan by design atau memang by accident?
Dua-duanya. Bisa by accident, bisa by design. Saya pikir dua-duanya dong. Nggak mungkin news page seperti ini. Mungkin bentar lagi ada demo. Ini kon­sekuensi demokrasi.

Dua-duanya. Bisa by accident, bisa by design. Saya pikir dua-duanya dong. Nggak mungkin news page seperti ini. Mungkin bentar lagi ada demo. Ini kon­sekuensi demokrasi.

Kalau by design?
Yah kasus Rp 200 juta, sudah meluluhlantakkan begini. Kalau obektif tentu banyak kasus yang belum tersentuh. Iya juga ya, banyak kasus yang lebih gila, itu jelas.

Artinya KPK tidak objektif?
Saya tidak katakan KPK tidak objektif. Saya hanya ingin men­gatakan tidak ada yang sempur­na, tidak ada yang terbebas dari kesalahan. Termasuk eksekutif, yudikatif, termasuk KPK. Kalau kita objektif, kita akan semakin maju. Tapi kalau kita eksploitasi kasus Rp 200 juta ini saya pikir kehabisan energi.

Siapa yang membuat grand design ini?
Siapa, saya tidak tahu. Ada yang mengambil advantage. Ini kan news page sudah oversize dan menimbulkan emosi publik dari kalangan bawah dan atas.

Apa benar ada komitmen dengan Jaksa Agung untuk membekingi kasus?
Itu tidak ada. Saya hanya minta satu, berikan kebanggaan untuk Nasdem bahwa tidak salah men­jadikan anda sebagai jaksa agung. Pengabdian anda bukan pada nasdem, nah ini sampai detik ini komitmen itu belum terlanggar.

Apa komunikasi terakhir anda dengan Patrice?
Kata dia, bang saya baru ditetapkan sebagai tersangka, saya akan lakukan pembelaan, tapi saya tidak ingin partai ada sangkut paut. Sebagai komitmen awal, saya mengundurkan diri.

Apa yang akan anda laku­kan pasca kejadian ini?
Ini pekerjaan besar. Hampir dari seluruh media, broadcast, online, menaruh perhatian utama. Menjadi news page yang hebat, itu artinya memang ada mag­nitude yang hebat untuk partai baru yang baru 36 kursi di DPR. Dibanding dengan partai yang su­dah lebih besar. Dalam perjalanan kita, tidak ada partai politik yang tidak terkena kasus.

Tapi korupsi itu kan me­mang tidak dibenarkan?
Saya menyadari, saya tidak mengatakan kasus ini benar salah. Kita berkepentingan, bahwa modal dasarnya adalah kepercayaan masyarakat. Kalau menurun tentu menjadi lampu kuning, tentu ini nggak boleh dibiarkan begitu saja, pekerjaan rumah yang besar ini berhadapan dengan persepsi bukan fakta.

Maksudnya?
Hukum relativitasnya ting­gi. Nasdem sangat menyadari, perlu diambil langkah-langkah yang penting untuk membangun persepsi. Ini bukan kasus yang akan merontokkan negeri. Seakan hancur nilai moral dan keimanan. Kesalahan dalam proses, silahkan membela diri, ini mendewasakan kita. Berdasarkan fakta yang harus diutarakan. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya