Berita

foto:rm

Bisnis

Janji Jokowi Sejahterakan Petani Cuma Berisi 'Seolah-olah'

SENIN, 19 OKTOBER 2015 | 13:53 WIB | LAPORAN:


RMOL. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan swasembada pangan khususnya padi, jagung, dan kedelai dalam waktu tiga tahun ke depan. Salah satu upaya untuk mencapainya dengan  meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman melalui rehabilitasi irigasi, bantuan benih, pupuk, dan alsintan atau traktor dan lainnya sebagaimana tertuang dalam Permentan nomor 3 tahun 2015.

Menanggapi rencana Kementan tersebut, Ketua Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah mengingatkan, pengalaman petani ketika diberi bantuan benih hibrida oleh pemerintah periode 2009-2010 yang ternyata lebih mudah terserang penyakit, terutama wereng. Akibatnya, lebih dari 25 kabupaten sentra produksi mengalami gagal panen.

"Ketika gagal panen, petanilah yang paling dirugikan, tak ada kompensasi apalagi ganti rugi. Tak mengherankan jika tahun-tahun selanjutnya banyak bantuan yang diparkir di gudang atau dijadikan beras karena tidak ada jaminan berhasil jika ditanam. Tentu saja jika ini terjadi lagi, uang subsidi benih yang hampir Rp 2 triliun menjadi sia-sia," ujarnya di Jakarta, Senin (19/10).

"Ketika gagal panen, petanilah yang paling dirugikan, tak ada kompensasi apalagi ganti rugi. Tak mengherankan jika tahun-tahun selanjutnya banyak bantuan yang diparkir di gudang atau dijadikan beras karena tidak ada jaminan berhasil jika ditanam. Tentu saja jika ini terjadi lagi, uang subsidi benih yang hampir Rp 2 triliun menjadi sia-sia," ujarnya di Jakarta, Senin (19/10).

Menurutnya, bantuan benih ini justru bertolak belakang dengan semangat dan cita-cita Kedaulatan Pangan yang termuat dalam Nawa Cita dan RPJMN. Karena kedaulatan pangan mengharuskan penggunaan sumberdaya lokal sebagai faktor keberhasilan pembangunan pertanian. Pemberian bantuan benih ini menurutnya bertentangan juga dengan rencana menyiapkan 100 desa mandiri benih.

"Bantuan benih tak hanya turut mempercepat kepunahan benih lokal namun juga kemandirian dan kedaulatan petani atas benih yang dimilikinya," tegasnya.

Selain itu, menurut Said, pemberian bantuan traktor yang marak diberitakan dan mendapat banyak pujian sekaligus harapan yang besar dari petani untuk bisa menjadi jawaban atas persoalan keterbatasan tenaga kerja, nyatanya yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bantuan traktor yang dipertontonkan ke publik hanya pajangan.

"Peristiwa di Ngawi, di mana para petani mengalami hal tersebut memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan pertanian yang dilakukan pemerintah hanya berisi seolah-olah atau dalam bahasa lain pencitraan. Situasi dan kenyataan ini tentu saja sangat memukul dan melukai perasaan petani. Bagaimana mungkin pemimpin yang dipilih dengan amanah memberikan baktinya dalam bentuk Seolah-olah. Seolah-olah memberikan bantuan traktor padahal hanya barang pinjaman untuk dipamerkan. Seolah-olah peduli petani padahal sesungguhnya sedang menipu diri sendiri dan petani," ungkapnya.

Said juga menilai Presiden Jokowi tidak mampu menunjukkan arah pembangunan melalui jalan dan rambu-rambu yang benar serta memantau kinerja pembangunan pertanian. Dengan melihat arah yang justru menjauh dari membangun kedaulatan dan kesejahteraan petani, gerakan petani nusantara memandang bahwa Jokowi gagal menjadi pemimpin di sektor pertanian.[wid]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya