Berita

ist

Denny JA: Karya Sastra Efektif Perangi Diskriminasi

SABTU, 17 OKTOBER 2015 | 00:25 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Buku karya budayawan Denny JA berjudul Sapu Tangan Fang Yin turut meramaikan gelaran pameran buku terbesar di Jerman, Frankfurt Book Fair. Di mana dalam acara itu, Indonesia menjadi tamu kehormatan.

Denny JA yang berkesempatan diwawancarai jaringan radio di Frankfurt bercerita tentang diskriminasi yang kini makin meningkat di seluruh dunia. Menurutnya, diperlukan banyak karya sastra guna memerangi diskriminasi yang makin meningkat.

"Publik memerlukan lebih banyak buku tentang diskriminasi. Karena tak diduga berdasarkan studi dari Pew Research Center 2015 di 198 negara level diskriminasi di dunia, terutama soal agama justru meningkat," kata pendiri Lingkaran Survei Indonesia itu dalam keterangannya yang diterima redaksi, Jumat (16/10).


Denny yang juga aktivis anti diskriminasi menjelaskan, terjadi peningkatan level diskriminasi di dunia, dari yang melibatkan 20 persen negara di tahun 2007 meningkat jadi 29 persen negara di tahun 2011, dan menjadi 33 persen negara pada 2012.

Sementara populasi dunia yang hidup di negara yang melakukan tindakan diskriminasi dalam level tingkat tinggi juga bertambah, dari 45 persen di tahun 2007, menjadi 52 persen di tahun 2011, dan naik lagi menjadi 74 persen di tahun 2012.

"Berdasarkan riset itu, mayoritas penduduk dunia kini hidup dalam lingkungan sosial yang saling melakukan diskriminasi terutama untuk isu agama," imbuhnya.

Menurutnya, diskriminasi seperti aksi pembakaran gereja di Aceh Singkil atau pembakaran masjid di Tolikara tidak hanya mendera Indonesia. Diskriminasi, juga terjadi di Jerman, bahkan di Amerika Serikat.

Dia menambahkan, efek sebuah buku apalagi puisi terhadap perjuangan diskriminasi, lebih menyentuh hati publik secara luas.

"Politisi membuat kebijakan publik. Tapi intelektual dan penyair memberikan inspirasi lewat buku- buku dan karya seninya," kata Denny.

Buku yang ditulis Denny JA sendiri berisi kisah cinta dengan latar belakang kerusuhan Mei 1998, dan telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Jerman. Pada Juli 2015 menjadi best seller nomor satu di Kindle Book StoreAmazon.com. Ini sekaligus menjadi kali pertama  buku karya anak Indonesia menjadi best seller di toko online terbesar di dunia. [wah]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya