Berita

Politikus Hanura Minta Polisi Objektif Sikapi Konflik Warga Bakung dengan PT SIL

KAMIS, 15 OKTOBER 2015 | 07:56 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Polisi harus bersikap objektif dalam menyikapi persoalan antara masyarakat Bakung Tulang Bawang Lampung dengan PT SIL atau Sugar Group Company.

"Jangan sampai langkah-langkah yang diambil semakin memicu terjadinya konflik yang lebih luas, dan lebih khusus untuk para aparat penegak hukum terutama pihak kepolisian, saya meminta agar tetap menjaga netralitas sebagai pengayom masyarakat," kata anggota Komisi II, Frans Agung Mula Putra, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 15/10).

Menurut Frans Agung, persoalan ini harus dilihat dengan kepala dingin dan tidak boleh dalam keadaan emosional. Sebab bila ditelusuri bahwa permasalahan ini muncul dipicu oleh penahanan Jamher Cs di Polsek Gedung Meneng dengan tuduhan melakukan pencurian kayu gelam di KM 29 yang di klaim milik PTSIL. Padahal bila ditelisik kayu gelam itu adalah kayu yang tumbuh secara "alami" di daerah rawa-rawa.


"Jadi memang praktis pohon kayu gelam itu bukan milik PT SIL karena PT SIL memiliki HGU perkebunan tebu bukan gelam." ungkap Frans.

Kedua, lanjut Frans, keberadaan HGU PT SIL  di KM 29 itu juga masih dipertanyakan. Karena dalam kunjungan kerja spesifik Komisi II pada tanggal 28 Sep 2015,  terkait penyelesaian sengketa tanah di Lampung, Komisi II menemukan ada kelebihan penguasaan lahan oleh PT SGC, yang seharusnya sesuai HGU tercatat seluas 89.956,48 Ha tetapi dalam kenyataan di lapangan mereka menguasai lahan seluas 138.904 Ha.

"Nah dengan mencuatnya kasus penangkapan Jamher cs ini bisa kembali kita jadikan pintu masuk untuk mencari titik terang apakah wilayah TKP tempat Jamher Cs itu mengambil kayu gelam tersebut merupakan wilayah HGU yang sah atau tidak," ungkap Frans, yang merupakan politisi Hanura.

"Ketiga kejadian ini harus kita lihat sebagai dampak dari kurang nya kepedulian perusahaan terhadap masyarakat," demikian Frans. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya