Berita

ari junaedi/net

DPR Itu Sahabat Rakyat Apa Koruptor?

KAMIS, 08 OKTOBER 2015 | 09:36 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Manuver sejumlah inisiator revisi UU 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi patut dipertanyakan.  Inisiator yang berasal dari PDIP, Golkar, PKB dan PPP ini dinilai kalangan penggiat anti rasuah sebagai lonceng kematian pemberantasan korupsi.

PDIP yang menjadi terbanyak jumlah inisiatornya layak dipertanyakan dan digugat keabsahannya mengingat Presiden Joko Widodo sendiri sangat menolak pelemahan KPK.

Pengamat politik Ari Junaedi menilai apa yang dilakukan sejumlah politisi di DPR untuk "mengkebiri" KPK  sebagai upaya pelemahan yang sistematis terhadap KPK. Tendensi politisi untuk memberangus KPK tidak lebih untuk mematikan KPK yang selama ini menjadi idola rakyat untuk memberantas korupsi yang meraja lelah.


"Kayak kurang kerjaan aja politisi kesiangan itu. DPR itu sahabat rakyat apa koruptor? Harusnya mereka menyuarakan suara rakyat, bukan suara koruptor. Tanyakan kepada rakyat, rakyat membutuhkan DPR apa KPK ? Jawaban rakyat cukup sederhana kok, harga murah, sekolah mudah, asap tidak ada dan politisi busuk berakhir di penjara," kata pengajar di Program S1 dan S2 Universitas Indonesia (UI) ini kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Kamis, 8/10).

Menurut Ari Junaedi, langkah PDIP dan PKB sangat menciderai komitmen pemerintahan Jokowi-JK yang mengedepankan pemerintahan yang bersih sesuai Nawacita dan revolusi mental mengingat dua partai ini pendukung rezim Jokowi-JK.

Harusnya, sambung Ari, penguatan revolusi mental ada baiknya dipelajari dengan betul dan seksama oleh inisiator revisi KPK dari PDIP dan PKB. Khusus yang dari PDIP, pemahaman Marhaenisme harus dipelajari betul agar ketika menjadi anggota DPR tidak keblinger.

"Kalau cara-cara seperti pelemahan KPK kerap ditunjukkan partai politik, maka jangan heran kalau rakyat akan menghukum mereka di pemilu yang akan datang. Jangan coblos mereka dan aminkan kalau akhirnya mereka terjerembab di kasus-kasus korupsi," demikian Ari Junaedi. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya