Berita

net

Bisnis

Dekat Penguasa, Makelar Dapat Kuota Gas Lebih Banyak

MINGGU, 04 OKTOBER 2015 | 12:51 WIB | LAPORAN:

Makelar gas yang selama ini beroperasi di pasar gas industri memiliki kedekatan dengan penguasa.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan dalam keterangan kepada redaksi di Jakarta, Minggu (4/9).

Menurutnya, para trader gas industri murni hanya bermodalkan kertas kosong dengan pola kerja bisa mengatur harga seenaknya demi meraup keuntungan.


"Para trader gas yang tak lebih dari broker ini tidak berkomitmen membangun infrastruktur pipa gas," beber Mamit.

Dia mengungkapkan, maraknya praktik trader gas berawal dari keluarnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 19/2009 tentang Kegiatan Usaha Gas Melalui Pipa. Para trader gas memanfaatkan pipa open access di ruas transmisi atau jaringan wilayah distribusi tertentu.

Dalam kebijakan itu, pemerintah mengalokasikan gas kepada para trader. Penetapan jatah gas seringkali terjadi permainan hanya trader gas yang dekat dengan kekuasaan bisa memperoleh jatah dalam jumlah besar.

Menurut Mamit, tanpa adanya hubungan khusus dengan pemegang kekuasaan trader gas dipastikan sulit memperoleh kuota gas dari pemerintah. Dengan konsekuensi itu, pasar gas saat ini menjadi berjenjang dan membuat harga gas untuk industri menjadi mahal.

"Karena begitu mudahnya trader itu dapat alokasi, kalau tidak ada kedekatan ya susah. Ini kan namanya luar biasa," bebernya.

Untuk itu, Energy Watch berharap, pemerintah segera menderegulasi aturan penetapan kuota gas kepada para trader. Dalam hal ini, kuota gas seharusnya diberikan kepada perusahaan yang berkomitmen membangun infrastruktur.

"Saya lihat semangat pemerintah kan juga mereka ingin melakukan deregulasi soal trader gas. Mari sama-sama kita kawal," demikian Mamit. [wah]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya