Berita

joko widodo/net

Bisnis

Diragukan, Paket Ekonomi Jokowi Ampuh Berangus "Bisnis Izin"

RABU, 30 SEPTEMBER 2015 | 12:09 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Idealnya proses perizinan tetap harus efisien dan efektif, yaitu cepat, murah, dan tidak berbelit.

"Kalau bisa gratis sebagai bagian dari layanan publik," tegas pengamat ekonomi politik, Fuad Bawazier kepada redaksi, Rabu (30/9).

Fuad Bawazier menerangkan, izin usaha diberikan seperlunya saja dan harus efisien dari segi ongkos dan waktu, serta efektif maksud penerbitannya. Sayangnya, ia menilai di Indonesia, izin telah menjadikan ekonomi nasional tidak kompetitif karena dililit dengan high cost economy (ekonomi biaya tinggi).


"Bahkan saking gilanya dunia perizinan di Indonesia ini, izin telah menjadi bisnis tersendiri yang membuat para pejabat berlomba-lomba menerbitkan izin sebagai barang dagangannya," beber menteri keuangan era Soeharto berkuasa itu.

Menurut dia, banyak pejabat yang menjadi kaya karena 'bisnis izin' ini. Keadaan diperparah lagi karena masuknya calo atau middleman untuk pengurusan perizinan. Dalam perkembangannya, ia mencermati, penyakit korupsi dari dunia perizinan ini telah ditiru oknum-oknum yang berwenang dalam pemberian pelayanan publik baik di kelurahan, kepolisian, imigrasi, puskesmas, pelabuhan, pengadilan  serta kantor-kantor pemerintahan lainnya baik di pusat maupun di daerah. Kondisi inilah yang menambah high cost economy Indonesia.

Ironisnya, pembuatan regulasi (peraturan-peraturan) juga disinyalir sering dimanfaatkan untuk tujuan komersialisasi pribadi.

"Apakah setelah para pejabat menikmati bisnis perizinan selama ini (dan membuatnya kaya) akan rela ditertibkan oleh rezim Jokowi melalui paket kebijakan ekonominya? Banyak yang meragukan karena kemampuan dan komitmen pemerintahan Jokowi yang sering tidak terbukti," jelasnya.

"Tapi waktulah yang akan membuktikannya," imbuh mantan dirjen pajak tersebut.

Namun ke depan, menurut hemat dia, penerbitan izin harus dengan koordinasi yang baik antar sesama instansi, juga antara pusat dengan daerah agar tidak tumpang tindih.[wid]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya