Guyuran kredit dari China Development Bank (CDB) senilai 3 miliar dolar AS (sekitar Rp 43,28 triliun), diharapkan bisa membangkitkan nilai tukar rupiah yang makin terjun bebas. Efek kredit dalam bentuk dolar AS itu, secara psikologis juga diharapkan bisa meningkatkan Gross Domestic Product (GDP) dan cadangan devisa.
Rencananya, kredit tersebut akan dialokasikan untuk mendukung sejumlah proyek infrastruktur pemerintahan Jokowi. Di antaranya, untuk membiayai proyek kereta api cepat, power plant (pembangkit listrik) dan light rail transit (LRT).
"Secara psikologis, rupiah diharapkan akan menguat. Sebab, guyuran kredit dalam bentuk dolar AS itu akan segera terserap untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur," kata Dirut BRI Asmawi Syam di Hong Kong.
Aswami menekankan, BRI sangat concern untuk ikut menguatkan rupiah yang masih nangkring di atas Rp 14.000 per dolar AS. "Baru-baru ini kami membawa pulang dana hasil bunga deposito atau uang nganggur milik BRI senilai 600 juta dolar AS yang disimpan di luar negeri. Dana tersebut kami bawa ke Bank Indonesia. Ini merupakakan upaya gotong royong dari kami untuk menguatkan rupiah," timpal Wakil Dirut BRI Suroso.
Suroso bilang, kredit China dengan tenor 10 tahun ini disambut baik BRI. Sebab, rata-rata pinjaman di pasar hanya bertenor 3-5 tahun. "Hari gini mana ada cari kredit bertenor 10 tahun," ujar Suroso.
Sebagaimana diberitakan, tiga bank pelat merah, yaitu BRI, Bank Mandiri dan BNI, baru saja mendapat kucuran kredit dari CDB sebesar 3 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, masing-masing bank BUMN itu mendapat jatah utang 1 miliar dolar AS. Kredit tersebut bertenor 10 tahun dengan bunga 3,2 persen.
Kata Asmawi, rencananya BRI akan menyalurkan kredit itu untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur. "Umumnya proyek besar kan dibiayai secara sindikasi paling tidak oleh tiga perusahaan. Nah, dengan masuknya uang pinjaman dari China ini bikin kita tenang. Ditargetkan tahun ini pinjaman sebesar 1 miliar dolar AS tersebut akan habis terdistribusi," harapnya.
Dia mengakui, sejauh ini BRI belum memiliki komitmen dengan swasta untuk menyalurkan dana kredit tersebut. "Swasta masih
wait and see," kata Asmawi.
Asmawi menyatakan, di tengah perekonomian yang sedang lesu, dia bersyukur karena kondisi BRI masih aman. "BRI aman karena ada KUR (
Kredit Usaha Rakyat). Saya minta teman-teman bekerja keras meskipun di hari Sabtu dan Minggu untuk menggenjot KUR," katanya.
"Saya punya tugas agar rakyat tidak lapar, tidak menganggur dan survive. Sebab, kalau banyak pengangguran, akan berdampak pada masalah sosial. Nah dampak ini yang kami hindari lewat penyaluran KUR," jelasnya.
Dia mengibaratkan kondisi perbankan di tanah air saat ini mirip dunia penerbangan. Pesawatnya sudah siap landas, namun pilot dan petugas menara sebagai regulator masih menunggu karena cuaca buruk. ***