Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Perusahaan Migas Asing Ngebet Jual BBM Subsidi

SENIN, 21 SEPTEMBER 2015 | 10:36 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan memberikan izin kepada perusahaan migas asing menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri.

Kalau kebijakan itu diterapkan, pengamat energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menilai, Pertamina akan sulit bersaing dengan perusahaan asing dalam penyaluran BBM bersubsidi.

"Jika Pertamina tidak merubah paradigma sebagai perusahaan yang memonopoli penyaluran BBM, rasanya akan sulit bersaing," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Sekadar informasi, saat ini sudah ada tiga perusahaan migas asing yang berniat menggarap bisnis di sektor hilir tersebut. Ada Shell Indonesia, Total E&P Indonesie dan Saudi Aramco. Ketiga perusahaan migas asing tersebut sudah menyampaikan minatnya secara lisan kepada pemerintah.

Menurut bekas anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini, bila kebijakan tersebut dijalankan, akan ada dua dampak yang akan terjadi.

Yaitu pertama, Pertamina dituntut meningkatkan pelayanan. Kedua, jika tidak berbenah, BUMN migas ini akan tergerus oleh para pesaingnya.

Fahmi mengatakan, seharusnya Pertamina bisa memenangkan persaingan ini. Selain telah memiliki banyak SPBUdi berbagai daerah, Pertamina juga menguasai jalur-jalur distribusi. Sedangkan pihak swasta akan mengalami kesulitan melakukan hal serupa dalam waktu dekat.

"Berat bagi swasta jika harus melakukan hal yang sama dengan Pertamina. Kecuali mereka membuka SPBUdi kota-kota besar, barangkali mereka masih mampu bersaing," katanya.

Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan khawatir kebijakan ini bisa membunuh Pertamina secara perlahan.

"Biarpun selama ini Pertamina merugi, tapi kan masih dibantu pemerintah. Kita takut justru akan mengebiri Pertamina sendiri dan bakal membunuh secara perlahan," ujar Mamit.

Selain itu, Mamit meminta kepada pemerintah adil dalam memberikan kewajiban kepada perusahaan minyak yang bermain di dalam negeri. Dia menolak jika asing hanya beroperasi di wilayah yang infrastrukturnya sudah siap (gemuk). Sudah seharusnya perusahaan penyuplai minyak menyalurkan hingga ke wilayah remote (infrastrukturnya sulit), seperti Papua dan Kalimantan.

"Jangan sampai kejadian seperti sekarang. Ketika Total dan Shell masuk di hilir namun hanya di wilayah gemuk saja. Kan nggak adil," cetusnya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Sutjipto keberatan jika BBM bersubsidi juga disalurkan perusahaan swasta asing. Dia mengingatkan bahwa BBM subsidi sebaiknya dikendalikan oleh alat negara.

"Kalau swasta bergerak di situ apakah negara bisa memegang betul swasta karena perannya berbeda," tanya Dwi.

Bekas bos PT Semen Indonesia itu mengklaim, selama ini Pertamina mendistribusikan dana pemerintah lewat BBM susbidi itu. Sedangkan jika ditangani swasta, maka akan berubah bentuk karena swasta tentu berpikirnya hanya mencari untung.

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, masuknya investor asing dalam penyaluran BBM subsidi secara prinsip dibolehkan oleh aturan. Menurutnya, bila serius ingin masuk dalam penyaluran BBM subsidi, investor tersebut tidak boleh hanya menggarap daerah gemuk. "Selain itu, investor asing juga diwajibkan membangun tangki, sarana penyaluran serta stok," kata Sudirman. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya