Kehadiran pimpinan DPR, Setya Novanto dan Fadli Zon, dalam jumpa pers kandidat presiden Amerika Serikat Donald Trump merupakan karma atas ulah pimpinan DPR kepada Presiden Jokowi. Ulah itu dilakukan dalam sidang tahunan MPR serta sidang bersama DPR-DPD pada 14 Agustus lalu.
Begitu kata Koordinator Jurubicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul dalam acara Mata Najwa, Metro TV (Rabu, 16/9).
"Itu karma pimpinan DPR yang memasang jebakan batman ke Pak Jokowi tanggal 14 Agustus lalu," ujarnya.
Jebakan batman yang dimaksud Ruhut adalah pimpinan yang meminta Jokowi meneken pembangunan 7 megaproyek DPR. Saat itu, kisah Ruhut, pimpinan DPR telah menyediakan prasati tanda pembangunan gedung baru diresmikan. Dalam prasasti itu tertera nama Ketua DPR Setya Novanto dan Presiden Jokowi sebagai pembubuh tanda tangan.
Usai Presiden Jokowi menyampaikan pidato kenegaraan, para pimpinan DPR kemudian mengajak Jokowi berkeliling gedung DPR. Sesampai di perpustakaan DPR, tempat prasasti ditaruh, Jokowi diminta untuk membubuhkan tanda tangan. Namun begitu, Jokowi tidak meneken prasasti itu dan meminta DPR mengkaji ulang proyek pembangunan gedung baru itu.
"Pak Jokowi usai acara itu disuruh teken 7 proyek pembangunan DPR. Saya percaya Tuhan tidak tidur. Dan benar saja Pak Jokowi tidak masuk jebakan batman mereka (pimpinan DPR)," sambung anggota Komisi III DPR RI itu.
Atas dasar itu, Ruhut menilai karma yang serupa menimpa Setnov dan Fadli. Keduanya yang menggelar pertemuan dengan Donald Trump, tidak bisa berkutik saat diajak bos properti AS itu jumpa pers terkait pencapresannya.
Bahkan Setya Novanto tidak bisa berkata tidak, saat Trump menanyakan kecintaan rakyat Indonesia padanya.
"Eh ini Tuhan membalas mereka (pimpinan DPR). Mereka kena jebakan Donald Trump. Mau ke mana-mana nggak bisa (saat jumpa pers). Kena jebakan batman kan dia," tandas Ruhut sambil tertawa lepas
. [ian]