Berita

beni pramula/net

Politik

Ini Seruan Ketum IMM Atas Tindakan Represif Aparat

SABTU, 12 SEPTEMBER 2015 | 13:37 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Aksi kepung istana yang dilakukan ribuan massa Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia di depan Istana Negara, Jumat (10/9) berakhir ricuh.

Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Beni Pramula menjadi korban pemukulan seorang polisi. Beni justru dipukul saat hendak melerai keributan antara polisi dan mahasiswa.

Beni menceritakan, sikap represif aparat bermula saat mahasiswa dan polisi saling dorong. Beni yang mencium gelagat provokasi, mengintruksikan agar anggotanya mundur sambil berjalan menuju barisan paling depan aksi. Sayangnya, begitu sampai di depan, kepalan polisi secara tiba-tiba mendarat di wajahnya.


"Ya ada pemukulan, kami juga sudah visum," ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (12/11).

Namun begitu, Beni meminta para kader IMM untuk mengikhlaskan insiden itu. Sementara di satu sisi tetap meminta kader meneruskan perjuangan melengserkan rezim Jokowi-JK yang dianggap sudah tidak berpihak kepada rakyat kecil.

"Ikhlaskan hati kawan-kawan. Perjuangan harus tetap berlanjut betapapun panasnya terik matahari dan tajamnya aspal jalanan. Perubahan kerap datang dari yang segelintir itu. Pentungan polisi, tinju, peluru karet, dan gas air mata yang mereka hantamkan ke kita belumlah berat dibanding penderitaan rakyat. Namun jika kita berhenti maka nestapa rakyat akan terjadi sepanjang zaman," seruannya.

"Tidak usah marah dan menghujat polisi. Maafkan saja mereka. Barangkali letih menjaga aksi kita yang setiap hari tiada henti sehingga mereka anarki," lanjut presiden Organisasi Pemuda Asia Afrika.

Sebelumnya, segenap elemen mulai dari mahasiswa, pemuda, pedagang kaki lima, dan buruh ikut bergabung bersama Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia dalam aksi menuntut Jokowi-JK mundur. Beberapa organisasi kepemudaan juga turut ambil bagian dalam aksi ini, seperti IMM, Barisan Oposisi Nasional, PMKRI, GPII, Himmah Alwasliyah, Papernas, APKLI, dan Aliansi Tarik Mandat (ATM).

Mereka menyuarakan tuntutan agar penyelenggaraan pemerintahan dikembalikan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, menolak ekonomi liberal, dan wujudkan ekonomi Berdikari melalui penguatan koperasi dan UMKM sebagai basis ekonomi nasional.

"Tidak hanya itu, kami juga mendesak Jokowi-JK mundur karena gagal mewujudkan kedaulatan bangsa dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Turunkan Jokowi-JK! Turunkan harga! Jangan ada PHK dan usir pengusah yang tidak nasionalis!" tuntut Beni mewakili seruan Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya