Berita

Komjen Budi Waseso/net

Wawancara

WAWANCARA

Komjen Budi Waseso: Bandar Narkoba Pantas Dihukum Mati, Kebijakan Rehabilitasi Kita Kaji Ulang

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2015 | 09:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

'Kebuasan' Komjen Budi Waseso (Buwas) mengungkap kasus korupsi saat memimpin Bareskrim Polri memang menuai kontroversi. Banyak pihak memuji terobosan lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1984 itu. Tapi ban­yak juga yang menghujat karena menjadikan pimpinan KPK seperti Abraham Samad dan Bambang Widjojanto menjadi tersangka.

Pujian diberikan kepada perwi­ra tinggi kelahiran Februari 1960 ini karena belum genap setahun mengkomando Bareskrim Polri, sedikitnya ada delapan kasus hukum yang diperkirakan mer­ugikan negara triliunan rupiah berhasil diungkap.

Namun 'kebuasan' Buwas harus terhenti karena dirinya dirotasi menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Komjen Anang Iskandar.


Publik berharap Buwas terus membara untuk memberantas peredaran narkotika yang san­gat meresahkan masyarakat. Mampukah Buwas melakukan­nya? Simak wawancara dengan Buwas berikut ini:

Bagaimana Anda mulai bekerja di BNN?

Saya langsung melakukan koordinasi dengan para staf BNN. Awal yang baru harus menjadi semangat yang baru juga untuk BNN. Saya akan mengevaluasi seluruh kinerja BNN. Saya akan lebih dulu men­dengar masukan dari seluruh staf di BNN. Saya ingin tahu apa yang sudah dilaksanakan atau yang belum dilaksanakan.

Masukan apa yang Anda maksud?

Masukan yang saya maksud termasuk soal proses rehabili­tasi yang menjadi salah satu program BNN memberantas peredaran dan konsumsi narkoba. Penanggulangan narkoba me­mang harus berjalan secara si­multan, termasuk dengan evalu­asi terhadap undang-undang terkait. Jika ada yang belum sempurna, disempurnakan.

Hukuman mati untuk gem­bong narkoba, bagaimana?

Saya mendukung penuh upaya pengadilan dan pemerintah menghukum mati kepada bandar narkoba. Saya menilai, para bandar memang perlu diberi hu­kuman berat. Hukuman mati ya seperti kata Presiden. Karena sebenarnya pelaku, bandar-ban­dar itu adalah pembunuh generasi muda bangsa ini. Tidak ada am­pun atau maaf.

Bagi oknum penegak hukum yang bermain dalam pere­daran narkoba, apa ditindak tegas?
Saya ingatkan kepada aparat penegak hukum agar jangan co­ba-coba memuluskan jalan para bandar atau justru ikut menjadi pengedar. Saya tak segan-segan menjerat mereka, meski berla­bel penegak hukum atau aparat keamanan. Oknum tetap kita lakuan tindakan tegas.

Apa tanggapan Anda soal adanya 36 narkoba jenis baru?
Saya ingin peredaran narko­tika ini bisa diberangus BNN sehingga masyarakat tak men­jadi korban. Kita akan antisipasi dan sosialisasi ke masyarakat bahaya-bahayanya sampai ke generasi paling bawah, SD dan TK, seperti soal permen dan makanan kecil yang diduga mengandung narkoba.

Untuk mafia yang mengen­dalikan lewat jeruji besi atau dalam Lapas?

Mafia yang masih bisa berop­erasi di Lapas atau di mana saja akan ditindaklanjuti. Saya akan kerja sama dengan seluruh unsur masyarakat. Penanggulangan peredaran narkotik dan psikotro­pika bukan hanya pekerjaan polisi semata, melainkan seluruh elemen masyarakat.

Apa target Anda?

Semua pekerjaan bisa selesai dalam waktu cepat. Targetnya secepat mungkin. Saya ingin ce­pat karena penanganan narkoba ini harus dengan semangat dan agresif.

DPR mau memanggil Kapolri Jenderal Badrodin Haiti untuk minta penjelasan soal Anda dimutasi, tanggapan Anda?

Tidak ada tanggapan, seka­rang saya sudah jadi Kepala BNN. Fokus saya sekarang ialah mengenali tempat baru se­cara lebih mendalam, sehingga bisa bekerja lebih mantap.

Saya kenali dulu pekerjaan, melihat kekuatan di internal dan bersih-bersih dulu. Setelah itu akan fokus pada persoalan rehabilitasi pengguna narko­tika.

Saya akan mengkaji ulang kebijakan rehabilitasi tersebut supaya tidak menjadi celah bagi para pengedar untuk memanfaat­kannya. ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Bareskrim Bongkar Tempat Jual Beli Ekstasi di Tempat Hiburan Malam

Rabu, 18 Maret 2026 | 03:59

Ekonom Sambut Baik Kerja Sama RI-Jepang soal Energi Hijau

Rabu, 18 Maret 2026 | 03:45

NKRI di Persimpangan Jalan

Rabu, 18 Maret 2026 | 03:13

Legislator Kebon Sirih Bareng Walkot Jakbar Sidak Terminal Kalideres

Rabu, 18 Maret 2026 | 02:50

Menhan: Masyarakat Harus Benar-benar Merasakan Kehadiran TNI

Rabu, 18 Maret 2026 | 02:25

RI Siapkan Tameng Hadapi Investigasi Dagang AS

Rabu, 18 Maret 2026 | 02:08

Kemenhub Tegaskan Penerbangan ke Luar Negeri Tetap Beroperasi

Rabu, 18 Maret 2026 | 01:50

Teheran Diserang Lagi, Israel Klaim Bunuh Dua Pejabat Tinggi Iran

Rabu, 18 Maret 2026 | 01:30

Sopir Taksi Daring Lapor Polisi Usai Dituduh Curi Akun Mobile Legend

Rabu, 18 Maret 2026 | 01:10

BI Beri Sinyal Tidak Akan Pangkas Suku Bunga Imbas Gejolak Global

Rabu, 18 Maret 2026 | 00:50

Selengkapnya