Berita

Sofjan Wanandi Tak Perlu Meradang, Saatnya Utamakan Kepentingan Rakyat

RABU, 09 SEPTEMBER 2015 | 10:02 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

‎ Sikap arogan yang ditunjukkan Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla, Sofjan Wanandi, merespon revisi proyek pembangkit listrik yang digagas Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli mengundang tanya.

Akademisi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) Jakarta, Lukman Hakim S.sos, Msi mengatakan, bukan tidak mungkin Sofjan Wanandi bersikap demikian karena ada kepentingan bisnisnya yang terganggu.

"Sudahlah Pak Sofjan Wanandi, sudah waktunya kepentingan rakyat dikedepankan. Rakyat senang dengan terobosan-terobosan Pak Rizal Ramli dalam membongkar kebijakan-kebijakan menyimpang yang merugikan mereka," ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu (Rabu, 9/9).

Lukman, yang juga eksponen gerakan 98, menyebut gebrakan Rizal Ramli memang membuat orang yang punya business interest seperti Sofjan Wanandi kebakaran jenggot.

Ikhtiar out of the box, tegas, dan keberpihakan kepada rakyat yang ditunjukkan Rizal Ramli tidak disukai oleh orang yang sudah "dinyamankan" karena kepentingan bisnis pribadinya terganggu.

Perlu diketahui juga, katanya, sejak pertama kali dilantik menjadi Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli terus melakukan upaya-upaya penataan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan negara dan hanya menguntungkan pemburu rente. Langkah Rizal ini diamini Presiden Jokowi, terbukti Rizal diberi kepercayaan khusus untuk menyelesaikan masalah dwelling time dan kementerian di bawah kordinasinya ditambah dua kementerian.

"Gebrakan positif Rizal Ramli inilah yang ditunggu publik. Bukankah hal seperti ini yang dikehendaki Presiden Jokowi: kerja, kerja, kerja untuk kesejahteraan rakyat," tukas Lukman.

Sebelumnya, Sofjan Wanandi menyebut langkah merevisi proyek pembangunan pembangkit listrik dari 35.000 megawatt menjadi 16.000 megawatt yang digagas Rizal Ramli akan membuat investor bingung. Oleh karena itu dia meminta Presiden Jokowi menertibkan Rizal.

Rizal menyebut proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt bakal merugikan PLN karena berdasarkan hasil kajian timnya ada beban kapasitas berlebih yang harus ditanggung PLN.

Apabila pembangunan pembangkit listrik sebesar 35 ribu megawatt itu rampung dalam lima tahun, maka PLN akan mencapai kelebihan kapasitas sebesar beban puncak, yakni 74 ribu megawatt. Angka tersebut lebih besar daripada kebutuhan rakyat Indonesia, sehingga akan ada kelebihan beban 21 ribu megawatt. Sesuai dengan kewajiban maka PLN harus membayar kelebihan tersebut sebesar 72 persen yang menurut hitungan Rizal, angkanya mencapai 7,62 miliar dolar AS.

Selain itu, menurut dia, angka 35 ribu megawatt terlalu mustahil untuk direalisasikan dalam lima tahun ini. Dia memperkirakan hanya 16 ribu megawatt yang realistis selesai dibangun. Banyak disebut-sebut proyek prestisius ini akan menjadi lahan bagi bisnis kroni-kroninya JK.[dem]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Wall Street Hijau di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS-Iran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:23

Di Balik Sensor Istana: Diksi Nuklir Prabowo dan Bantahan Kilat Teheran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:10

Pelatih Vietnam Bongkar Rahasia Usai Permalukan Indonesia 3-0

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:04

Tanggapi MK, Menkeu Pastikan Anggaran MBG Tidak Mengganggu APBN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:47

Menhaj Lantik 6 Pejabat Kemenhaj untuk Perkuat Pelayanan Haji dan Umrah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:46

Bunga Pinjaman Turun, Bulog Hemat hingga Rp1,07 Triliun per Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:35

Pasar Logam Mulia Tertekan, Emas Masih Berkutat di 4.000 Dolar AS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:18

Bursa Eropa Cetak Rekor, DAX 40 Tembus 26.000 Poin

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:07

Sekolah Nasional Terintegrasi: Tantangan Pendidikan dan Implementasi Rekonstruksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:46

BGN Anggap Putusan MK Justru Perkuat Program MBG

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27

Selengkapnya