Ketahanan ekonomi Indonesia sebenarnya tidak bermasalah. Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan bahwa yang menjadi masalah justru karena semua merasa 'kebingungan' akibat tidak adanya strategi pembangunan nasional.
"Sejak dihapuskannya GBHN, ini awal mula masalah. Di GBHN, ada strategi ekonomi dan pertahanan. Dulu itu dibikin. Sekarang setelah dihapus, tak pernah dibikin. Kita tak tahu negara mau dibawa ke mana," kata Tito dalam diskusi bertajuk 'Daya Tahan Ekonomi Indonesia' yang diselenggarakan Relawan Merah Putih (RMP), di Jakarta, Senin (7/9).
Tito memastikan, masalah saat ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia, namun arahan ekonomi yang tak jelas. Dia mencontohkan, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, pada 1994 yang mengarahkan Singapura agar dikelola seperti korporasi.
"Makanya setelah itu, Singapura melakukan banyak akuisisi bisnis di negara seperti di Indonesia ini," kata Tito.
Dirut Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, juga meyakinkan bahwa secara fundamental dan teknis, Indonesia tahan terhadap krisis kali ini yang skalanya lebih kecil dibanding krisis 1998 dan 2008. Masalahnya, adalah munculnya pesimisme yang berujung pada masalah psikologis dan emosional perekonomian.
"Krisis sekarang ini paling ringan dibanding 1998 dan 2008. Itu dari sisi fundamental. Masalah likuiditas, inflasi, situasi saat ini jelas lebih bagus. Bursa 1998, itu habis-habisan. Turunnya indeks 60 persen. Sekarang paling 20 hingga 25 persen. Bunga bank tanhun 1998 itu sampai 60 persen. Di 2008, government year itu 21 persen. Sekarang 10 year bond yield, itu di bawah 9 persen. Maka secara teknis dan fundamental, sekarang lebih bagus," jelasnya.
"Maka kalau 2008 kita selamat, sekarang mestinya kita selamat. Cuma ada masalah psikologis dan emosional. Saya bingung kenapa kita turun sekali. Jawabannya, menurut saya, adalah semua pesimis. Ini bahaya," tegasnya.
Hadir sebagai pembicara dalam acara ini Menteri Keuangan RI Bambang Bdorjonegoro dan Ketum HIPMI Bahlil Lahadalia. Sebagai moderator adalah Ketua RMP dan Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Maruarar Sirait.
Peserta diskusi adalah para aktivis seperti Ketua Umum PMKRI Lidya Natalia, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Beni Pramula, dan para pengurus daerah HIPMI. Selain itu, tokoh asosiasi juga hadir dari Gapensi dan Hiswana Migas.
[ian]