Berita

Dede Yusuf/net

Wawancara

WAWANCARA

Dede Yusuf: Kami Kecewa Menteri Hanif Keluar Negeri Terus, Padahal Terjadi PHK Besar-besaran

SABTU, 05 SEPTEMBER 2015 | 10:16 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional mem­bawa dampak serius bagi buruh. Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan, sebanyak 26.000 buruh telah kehilangan pekerjaan alias di-PHK.

Data yang disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri itu dipertanyakan Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf. Sebab, jumlah buruh yang kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) bisa lebih banyak dari itu akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kenapa Dede Yusuf meragu­kan data dari Hanif Dhakiri? Apa politisi Partai Demokrat itu memiliki data yang menye­butkan buruh kena PHK tahun ini jauh lebih besar? Simak wawancara dengan Dede Yusuf berikut ini:


Kenapa Anda meragukan data itu?
Datanya belum pasti. Dengan pelemahan rupiah ini, industri yang menggunakan bahan im­por seperti garmen, obat me­mang mengalami langkah berat, ditambah lagi dengan masalah perizinan, sehingga imbasnya terjadi PHK.

Apa langkah yang harus dilakukan pemerintah?
Ada dua langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menolong para pekerja terhindar dari PHK. Pertama, pemerintah perlu mengajak bicara para pengusaha dan memberikan keringanan sebagai imbal balik agar mereka tidak melakukan PHK. Misalnya, bisa dengan menurunkan bea impor dan menurunkan biaya perizinan atau bahkan menurunkan pa­jaknya.

Kedua, pemerintah bisa memaksimalkan pembangu­nan infrastruktur yang bisa menyerap tenaga kerja agar adanya PHK tak berpengaruh pada meningkatnya angka pengangguran.

Sikap Komisi IX DPR, ba­gaimana?
Kami berencana memang­gil Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri guna membahas nasib dan persoalan yang men­impa tenaga kerja di Indonesia. Gelombang PHK terhadap buruh di Indonesia membuat kami mempertanyakan kinerja Hanif Dhakiri dengan adanya PHK besar-besaran itu.

Jajaran anggota fraksi di komisi yang saya pimpin telah sepakat untuk meminta keteran­gan pemerintah untuk memba­has langkah-langkah yang bisa mengatasi persoalan ketena­gakerjaan di Indonesia. Kami sebetulnya agak kecewa dengan Pak Hanif Dhakiri karena beliau ke luar negeri terus.

Pemerintah mengklaim ekonomi masih membaik, berbeda dengan kritis moneter 1998?
Pemerintah seharusnya tidak menampik kondisi perekono­mian Indonesia yang saat ini dirundung krisis. Naif jika pe­merintah tetap keukeuh menya­takan perekonomian Indonesia dalam kondisi baik-baik saja.

Dalam kondisi tersebut, Menteri Hanif seharusnya bisa memiliki formula solusi untuk mengatasi persoalan ketena­gakerjaan di Indonesia. Bukan hanya soal PHK, belakangan dunia ketenagakerjaan dirund­ung sengkarut yang berkaitan dominasi tenaga kerja asing dan pencabutan bahasa asing.

Mestinya menteri harus si­gap berada di tengah kondisi saat ini. Kami menyayangkan hal itu.

Tenaga kerja asing sudah dimulai sejak tahun lalu, ke­napa tidak dipersoalkan dari dulu?
Investor dari Tiongkok me­mang paketnya investasi masuk berbarengan dengan tenaga kerja karena mereka mengejar percepatan kerja. Hal ini diberi­kan izin melalui Kemenaker melalui peraturan menteri, tapi dengan syarat pekerja asing itu mampu melakukan trans­fer teknologi. Kemudian satu tenaga kerja asing yang masuk harus didampingi10 tenaga kerja lokal.

Percaloan tenaga kerja asing masih marak terjadi, apa ini kelemahan pemerintah dalam melakukan pengawasan?

Mengundang invenstor untuk memperbaiki ekonomi, bukan berarti pemerintah lepas tangan terhadap controlling. Makanya kami tidak setuju dengan rencana pencabutan bahasa Indonesia se­bagai syarat tenaga kerja asing bekerja di sini. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Gandeng Boulevard Coffee, Bank Syariah Nasional Perkuat Ekosistem Transaksi Masyarakat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:23

15 Tahun Mengaspal, 70 Mitra Driver Dapat Hadiah Umrah dari Gojek

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:11

AADI Laporkan Pengalihan Saham Hasil Buyback Lewat Bursa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:12

Kebakaran di Belakang RS PIK, Asap Tebal Membubung

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:11

Peradi Profesional Jakarta Dilantik, Harris Arthur: Integritas Adalah Marwah Advokat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:02

Purbaya Girang, Danantara Setor Dividen Rp120 Triliun ke Kas Negara

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:56

Chevron Siap Perluas Proyek Minyak di Venezuela

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:39

Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Wajib Beri Pilihan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:26

Amandemen UUD 1945 Didahului Pemufakatan Jahat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:12

Aktivis Senior Ingatkan Sudah Saatnya Kembali ke UUD 1945 Asli

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:39

Selengkapnya