Jurus rajawali ngepret yang diperkenalkan Rizal Ramli di hari pertama setelah dia dilantik menjadi Menko Maritim dan Sumber Daya mengagetkan sekaligus memukau teman-temannya di Kabinet Kerja, juga masyarakat luas.
Ngepret, menurut Rizal Ramli adalah hentakan keras sayap burung rajawali saat mendarat. Sedemikian kerasnya sampai-sampai mampu menerbangkan batu. Kepretan Rizal Ramli dalam praktiknya adalah kritik keras terhadap sejumlah kebijakan yang menurutnya keliru. Dua yang dikepretnya adalah pembelian pesawat Airbus A350 dan proyek listrik 35 ribu MW.
Bagi seekor rajawali, kepretan sayap tidak bisa dilakukan sembarangan. Dia harus presisi. Kalau tidak, maka pendaratan tidak mulus, dan bisa berakibat fatal. Demikian juga dengan kepretan Rizal Ramli.
Rizal yang pernah jadi Menko Ekuin dan Menteri Keuangan di era Abdurrahman Wahid itu tahu benar apa yang dikatakannya tentang kedua proyek yang dia anggap bermasalah itu. Pihak-pihak yang terkena kepretan Rizal tentu tak bisa terima dan memberikan perlawanan.
Tetapi bagi pihak lain di dalam Kabinet Kerja, menilai kepretan rajawali ala Rizal Ramli itu bagai suntikan akal sehat dalam dosis yang tinggi. Dia berhasil menaikkan rasa percaya diri bahwa Indonesia punya peluang untuk tumbuh dan menjadi besar.
Kisah kepretan Rizal Ramli ini juga menyebar ke mancanegara, membuat sejumlah negara mengirimkan tokoh-tokoh kelas satu mereka bertemu Rizal Ramli.
Sejauh ini, sudah ada lima tokoh dari negara sahabat yang bertemu dengan Rizal Ramli. Pertama adalah orang kuat Timor Leste Xanana Gusmao. Diikuti pertemuan dengan Dutabesar Amerika Serikat Robert Blake, utusan khusus Perdana Menteri Jepang, Hiroto Izumi. Pekan lalu Rizal Ramli juga sempat bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak di Putrajaya. Terakhir, adalah kunjungan Dutabesar Republik Rakyat China Xie Feng.
Kunjungan Hiroto Izumi dan Xie Feng didasarkan pada keinginan yang sama, yakni memenangkan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang ingin di bangun Presiden Joko Widodo.
Kepada Jepang dan China, Rizal Ramli tak mau ribet. Dia mengatakan pemerintah Indonesia akan memastikan proses tender berlangsung fair. Dia mengajukan sejumlah syarat yang intinya agar Indonesia bisa mendapatkan nilai tambah dari megaproyek itu.
Menurut Rizal Ramli, siapapun yang menang tidak masalah, selama menguntungkan rakyat Indonesia.
[dem]