Berita

rizal ramli/net

Kepretan Rizal Ramli Menarik Perhatian Dunia

SENIN, 31 AGUSTUS 2015 | 21:14 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Jurus rajawali ngepret yang diperkenalkan Rizal Ramli di hari pertama setelah dia dilantik menjadi Menko Maritim dan Sumber Daya mengagetkan sekaligus memukau teman-temannya di Kabinet Kerja, juga masyarakat luas.

Ngepret, menurut Rizal Ramli adalah hentakan keras sayap burung rajawali saat mendarat. Sedemikian kerasnya sampai-sampai mampu menerbangkan batu. Kepretan Rizal Ramli dalam praktiknya adalah kritik keras terhadap sejumlah kebijakan yang menurutnya keliru. Dua yang dikepretnya adalah pembelian pesawat Airbus A350 dan proyek listrik 35 ribu MW.

Bagi seekor rajawali, kepretan sayap tidak bisa dilakukan sembarangan. Dia harus presisi. Kalau tidak, maka pendaratan tidak mulus, dan bisa berakibat fatal. Demikian juga dengan kepretan Rizal Ramli.


Rizal yang pernah jadi Menko Ekuin dan Menteri Keuangan di era Abdurrahman Wahid itu tahu benar apa yang dikatakannya tentang kedua proyek yang dia anggap bermasalah itu. Pihak-pihak yang terkena kepretan Rizal tentu tak bisa terima dan memberikan perlawanan.

Tetapi bagi pihak lain di dalam Kabinet Kerja, menilai kepretan rajawali ala Rizal Ramli itu bagai suntikan akal sehat dalam dosis yang tinggi. Dia berhasil menaikkan rasa percaya diri bahwa Indonesia punya peluang untuk tumbuh dan menjadi besar.

Kisah kepretan Rizal Ramli ini juga menyebar ke mancanegara, membuat sejumlah negara mengirimkan tokoh-tokoh kelas satu mereka bertemu Rizal Ramli.

Sejauh ini, sudah ada lima tokoh dari negara sahabat yang bertemu dengan Rizal Ramli. Pertama adalah orang kuat Timor Leste Xanana Gusmao. Diikuti pertemuan dengan Dutabesar Amerika Serikat Robert Blake, utusan khusus Perdana Menteri Jepang, Hiroto Izumi. Pekan lalu Rizal Ramli juga sempat bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak di Putrajaya. Terakhir, adalah kunjungan Dutabesar Republik Rakyat China Xie Feng.

Kunjungan Hiroto Izumi dan Xie Feng didasarkan pada keinginan yang sama, yakni memenangkan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang ingin di bangun Presiden Joko Widodo.

Kepada Jepang dan China, Rizal Ramli tak mau ribet. Dia mengatakan pemerintah Indonesia akan memastikan proses tender berlangsung fair. Dia mengajukan sejumlah syarat yang intinya agar Indonesia bisa mendapatkan nilai tambah dari megaproyek itu.

Menurut Rizal Ramli, siapapun yang menang tidak masalah, selama menguntungkan rakyat Indonesia. [dem]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya