Berita

humas mpr

Mahyudin: Pancasila Jangan Sekadar Dihafalkan

SABTU, 29 AGUSTUS 2015 | 11:47 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, gencar dilakukan pimpinan dan anggota MPR RI dengan target sasaran berbagai elemen masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Pada Jumat (28/8), sasaran target sosialisasi adalah anggota Korps HMI Wati (Kohati) PB HMI Jakarta. Sosialisasi ini dibawakan langsung oleh Wakil Ketua MPR RI Mahyudin bersama dua narasumber utama, yakni Hardi Susilo anggota fraksi Golkar MPR RI dan Hermanto anggota fraksi PKS MPR RI.

Kepada para peserta, Mahyudin mengatakan bahwa isi Pancasila semua pasti hafal di luar kepala, tapi soal pemahaman dan pengamalan itu perlu untuk terus diingatkan.


"Pancasila tidak sekadar dihafal, tapi sangat perlu untuk dipahami dan diamalkan. Itulah pentingnya sosialisasi untuk menyegarkan ingatakan kita semua akan nilai-nilai luhur bangsa," ujarnya sebagaimana keterangan tertulis yang diterima redaksi (Sabtu, 29/8).

Pengamalan Pancasila, lanjut Mahyudin, sebenarnya sangat mudah sebab Pancasila itu merupakan ciri khas dan karakter bangsa Indonesia sejak dulu. Contohnya, soal Ketuhanan, seluruh rakyat Indonesia percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian soal penghormatan kepada yang lebih tua itu adalah salah satu esensi dari nilai luhur bangsa dan masih banyak lagi.

Sementara untuk persatuan Indonesia, Mahyudin meninta agar hal ini tidak sampai pecah. Nasionalisme harus ditingkatkan demi persatuan bangsa. Konflik soal keberagaman Indonesia seharusnya tidak lagi menjadi persoalan.

"Perpecahan bangsa muncul dari konflik karena perbedaan. Nusantara ini dulu pernah memiliki kerajaan-kerajaan besar namun hancur bukan karena faktor eksternal tapi karena faktor internal perebutan kekuasaan dan perang saudara. Karena perpecahan itu muncul penjajah yang menjajah habis bangsa kita. Kita harus belajar dari sejarah bangsa kita itu agar tidak terulang lagi saat sekarang," pungkas politisi Golkar itu. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya