Berita

ilustrasi/net

Catat, Reklamasi Jakarta Utara Hancurkan Ekosistem Mangrove!

SELASA, 25 AGUSTUS 2015 | 18:45 WIB | LAPORAN:

. Mega proyek reklamasi 17 pulau buatan di utara Jakarta akan menghancurkan ekosistem mangrove yang tersisa di Jakarta. Kondisi ekologi lingkungan mangrove yang menghendaki syarat syarat tertentu terhadap kadar garam, pasang surut air laut dan pelumpuran juga akan berubah akibat kegiatan reklamasi dengan penimbunan.

Koordinator Komunitas Indonesia Friends of The Animals (Ifota), Marison Guciano yang mengatakan itu dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Selasa, 25/8)

"Kehilangan mangrove di Teluk Jakarta mempunyai dampak ekologi yang sangat serius,” jelasnya.


Dia terangkan, hancurnya ekosistem mangrove juga menyebabkan kerusakan habitat alami dan punahnya berbagai jenis flora fauna dan biota tertentu. "Ekosistem mangrove di Jakarta merupakan tempat tinggal aneka jenis burung dan berbagai satwa lain yang sulit ditemukan di wilayah Jakarta lainnya. Ada 90 an jenis burung yang hidup di wilayah ini. Sekitar 17 jenis di antaranya adalah jenis burung yang dilindungi,” urainya.

Selain burung, ekosistem mangrove juga menjadi tempat hidup berbagai spesies reptilia seperti biawak air (Varanus salvator), ular sanca kembang (Python reticulatus), ular sendok Jawa alias kobra Jawa (Naja sputatrix), ular welang (Bungarus fasciatus), buaya muara (Crocodylus porosus) dan lainnya.

Disebutkan Marison, Jakarta telah kehilangan luasan hutan mangrovenya dalam waktu yang relatif cepat. Pada tahun 1960 luas kawasan hutan mangrove di pesisir utara Jakarta seluas 1.300 hektare (Ha). Kini, kawasan hutan mangrove yang tersisa 327 hektar. Namun, dari 327 hektar itu, akibat tingginya tingkat kerusakan, diperkirakan hanya tinggal 10% yang tertutup oleh vegetasi berpohon-pohon. Sebagian besar telah berubah menjadi rawa terbuka yang ditumbuhi rumput-rumputan, gelagah (Saccharum spontaneum) dan eceng gondok (Eichchornia crassipes).

Selain mengakibatkan kepunahan flora fauna dan biota laut, reklamasi dinilai Marison juga akan semakin memperparah banjir rob atau air laut pasang di Jakarta bagian utara.

"Terjadi peninggian muka air laut karena area yang sebelumnya berfungsi sebagai kolam telah berubah menjadi dataran. Maka, daerah pantai lainnya rawan tenggelam dan mempercepat intrusi air laut ke daratan,” tegasnya.

"Reklamasi ini harus dihentikan karena tidak menciptakan keadilan ekologi. Yang diuntungkan hanya pengembang atau developer," sambungnya. [sam]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya