Berita

Destry Damayanti/net

Wawancara

WAWANCARA

Destry Damayanti: Kami Tak Mau Langsung Menghakimi

SELASA, 25 AGUSTUS 2015 | 10:43 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Seleksi tahap akhir calon pimpinan KPK dimulai kemarin. Tes wawancara terbuka selama tiga hari itu akan mende­pak 11 dari 19 calon yang tersisa.
 
Ke-19 calon itu adalah Ade Maman Suherman, Agus Rahardjo, Alexander Marwata, Brigjen Pol Basaria Panjaitan, Budi Santoso, Chesna Fizetty Anwar, Firmansyah TG Satya, Giri Suprapdiono, Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji, Jimly Asshiddiqie, Johan Budi, Laode Muhamad Syarif, Moh Gudono, Nina Nurlina Pramono, Saut Situmorang, Sri Harijati, Sujanarko, Surya Tjandra, dan Yotje Mende.

Sembilan srikandi sebagai panitia seleksi (pansel) mence­car calon pimpinan (capim) KPK dengan 'berbagai peluru' yang telah mendapat masukan dari masyarakat. Ini tentu masa-masa sulit, penuh dag dig dug bagi para calon.


Situasi sulit ini bukan hanya bagi para capim KPK, tapi juga bagi pansel karena harus memi­lih delapan nama untuk diajukan kepada Presiden. Selanjutnya delapan nama itu diserahkan ke DPR untuk melakukan fit and proper test.

Tidak tertutup kemungkinan pansel akan mendapat tekanan agar memilih calon titipan. Bagaimana sembilan srikandi menyikapi itu? Simak wawancara dengan Ketua Pansel Pimpinan KPK Destry Damayanti berikut ini:

PPATK, Polri dan berbagai LSM serta masyarakat mem­berikan rekam jejak 19 capim KPK, apa hasilnya?
Ada dua orang yang memiliki rekam jejak mencurigakan. Tapi kami tak mau langsung mengha­kimi, kami akan mengkonfirmasi lebih lanjut kepada calon yang bersangkutan.

Itu masukan dari mana?
Kami mendapatkan laporan dari PPATK bahwa ada dua orang yang transaksinya men­curigakan.

Apa saja yang mencuriga­kan dari dua calon itu?
Transaksi mencurigakan beru­pa pemasukan uang lebih dari Rp 500 juta dalam sekali transaksi, tapi belum tentu terkait dengan pidana.

Jadi bagaimana?
Makanya kami terus melakukan penelusuran. Mengkonfirmasi terkait dua kandidat ini.

Indonesia Corruption Watch (ICW) memberi­kan rekam jejak para calon pimpinan KPK, bagaimana hasilnya?
Kami akan mengklarifikasi temuan ICW ihwal sepuluh orang calon pimpinan KPK yang dinilai tidak layak. Semua temuan akan kami tanyakan langsung secara terbuka pada saat wawancara terbuka. Capim KPK diharapkan dapat men­jelaskan secara langsung soal temuan ICW itu.

Bagaimana klarifikasi pan­sel?
Klarifikasi akan dilakukan dengan cara menanyakan lang­sung kepada sepuluh orang kandidat itu saat dilakukan wawancara terbuka. Dari 19 nama calon pimpinan KPK, ada beberapa orang yang namanya masuk dalam catatan PPATK. Sebagian dari nama itu juga masuk dalam radar ICW.

Memang ada sebagian nama dari penelusuran ICW yang sama dengan hasil penelusuran PPATK. Itu sebabnya, saat se­si wawancara, temuan ICW maupun temuan PPATK akan ditanyakan langsung kepada para calon pimpinan KPK itu. Semua temuan itu akan kami mintai konfirmasinya pada saat wawancara.

Apa ini merupakan tan­tangan dalam mendapatkan capim KPK yang bersih?
Ya, saya sih berharap setelah melakukan wawancara, Pansel akan menghasilkan calon pimpinan KPK yang berkualitas dan bersih dari catatan-catatan negatif.

Setidaknya ada empat na­ma yang masuk dalam catatan PPATK dan ICW. Mereka dinilai bermasalah karena memiliki transaksi keuangan yang men­curigakan.

Bagimana tahap akhir selek­si terhadap 19 calon pimpinan KPK 2015-2019?
Media dan pengamat dipersi­lakan hadir. Pansel mengagenda­kan wawancara mulai Senin (24/8) hingga Rabu (26/8).

Bagaimana proses wawan­caranya?

Setiap calon menghadapi dua penanya utama, yakni satu ahli hukum dan satu ahli bidang yang dimiliki capim KPK. Dua penan­ya utama itu berasal dari Pansel. Sedangkan anggota pansel yang lain juga berhak menanyakan segala hal berkaitan dengan kom­petensi dan track record semua calon.  ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya