Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Politisi PKS Ingatkan Soal Jarak Lebar antara Asumsi dan Realita

SENIN, 24 AGUSTUS 2015 | 18:05 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2016 harus menjawab ekspektasi masyarakat dan pasar dengan asumsi-asumsi yang lebih realistis.

"Jangan sampai ada gap yang terlalu lebar antara asumsi makro dan realitanya," kata Anggota Komisi XI DPR RI, Ecky Awal Mucharam, dalam keterangannya soal perkembangan perekonomian terkini dan kaitannya dengan penyusunan RAPBN 2016, Jakarta (24/8).

Ecky menjelaskan, saat ini rupiah sudah menembus angka psikologis Rp14.000, serta IHSG terus melorot hingga kisaran Rp 4.100-an. Lanjut Ecky, secara umum pasar saham dunia pun bearish (terjun), indeks harga-harga komoditas mencapai rekor terlemahnya seperti harga minyak mentah Brent yang sudah ke USD 40 per barrel. Menurutnya, ini sinyal-sinyal bahwa ekonomi dunia akan lebih bergejolak dari yang diperkirakan.


Karena itu, masih kata Ecky, asumsi-asumsi makro yang digunakan dalam RAPBN 2016 mestinya bisa menangkap juga sinyal ini. Sebab asumsi yang terlalu jauh dari kenyataan akan menyebabkan defisit dalam pengelolaan keuangan negara.

"Jika defisit ini terjadi maka tak ada cara lain menutup defisit kecuali dengan berutang. Akibatnya country risk naik sehingga ketidakpastian makin meningkat,” ujar politisi PKS ini.

Sebagaimana diketahui, tambah Ecky, dalam nota keuangan RAPBN 2016 yang dikeluarkan pemerintah pekan lalu, rupiah diasumsikan berada di posisi Rp13.400 per dollar AS serta harga minyak dunia USD60 per barrel. Ecky menegaskan, yang tak kalah pentingnya adalah faktor psikologis yaitu kepercayaan pasar terhadap kredibilitas pemerintah dalam memprediksi perekonomian.

"Mereka butuh kepastian untuk mengkalkulasi usaha atau mengambil keputusan investasinya,” ungkap Ecky. [ald]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya