Berita

Ketika Maruarar Sirait Minta Agus Martowardojo Jelaskan Nasionalisme Sempit...

RABU, 19 AGUSTUS 2015 | 21:05 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

‎RMOL. Nasionalisme sesekali dibenturkan dengan konsep ekonomi global. Bahkan ada yang menilai bahwa gagasan nasionalisme sama saja over-proteksi di tengah dunia yang semakin tanpa batas. Ada juga yang menilai, nasionalisme tetap relevan di tengah gempuran pasar bebas.

Namun ternyata tak mudah membicarakan dan menjelaskan nasionalisme dan ekonomi. Bahkan orang sekaliber Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo, pun nampak kaku ketika diminta menjelaskan.‎

‎Adalah Maruarar Sirait, Ketua Umum DPP Tarun‎a Merah Putih (TMP) yang meminta penjelasan Agus Mario atas makna ucapannya, yang menyebut bahwa pembangunan ekonomi tak bisa dilaksanakan dengan 'nasionalisme sempit'. Ucapan itu disampaikan dalam forum dialog yang digelar TMP, di Menteng, Jakarta, bertema "Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia Sekarang dan 2016" di kantor TMP, Jalan Cik Ditiro, Menteng, Jakarta (Rabu (19/8). 

Awalnya, Agus Marto menyebutkan optimismenya atas kondisi perekonomian Indonesia yang akan tahan menghadapi kondisi saat ini. Menurut dia, yang harus dilihat adalah bagaimana mengubah negara Indonesia yang berbasis impor dan konsumsi, menjadi produsen. Agus Marto meminta agar semuanya tak dilakukan dengan 'nasionalisme sempit'.

‎Maruarar, yang menjadi moderator acara itu, lalu menyela Agus dan memintanya menjelaskan maknanya. ‎"Tolong diperjelas apa makna nasionalisme sempit itu. Supaya menjadi jelas bagi semuanya," kata Ara, sapaan akrabnya.‎

‎Agus Marto terlihat agak gelagapan dengan permintaan penjelasan itu. Dia lalu memilih untuk menjelaskan hal lain. Yakni soal komitmen Bank Indonesia menjaga sektor makroprudensial.

Agus Martowardoyo juga memuji Pemerintah yang memiliki komitmen membangun daerah dan UMKM melalui RAPBN 2016. BI memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bisa mencapai 5,5 persen. ‎

‎Secara khusus, dia mendorong agar pengusaha pemula agar memanfaatkan fasilitas subsidi bunga pemerintah lewat pinjaman kepada UMKM.

‎"Generasi muda harus pakai ini. Banyak pengusaha sukses dengan menggunakan fasilitas sejenis. Saatnya Indonesia bangkit. Jangan jadi karyawan, jadilah pengusaha seperti Bahlil (Ketum HIPMI)."

‎Dia juga mendorong agar Indonesia memiliki daya saing, dan bisa meningkatkan kemandirian. Sehingga ke depan, bahan pangan seperti garam dan ikan tak lagi diimpor. ‎[ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Realisasi Pendapatan Perparkiran di Jakarta Memble

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:21

Keluarga Sutrimo Tak Lagi Pasrah soal Penyebab Kematian Karumga Febrie

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:18

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II segera Cair

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:36

Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:16

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Pancasila Dasar Negara Kita

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:43

Rudy Tanoe Bantah Mangkir Panggilan KPK

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:16

Waspada Banjir Rob Rendam Kawasan Pesisir Jateng

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:00

Dibuka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah SMA Gibran

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:28

Zikir Kebangsaan di Istiqlal

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:08

Selengkapnya